
ENERGIK: Mat Kauli menunjukkan sebagian hasil alih aksara Arab ke Latin karyanya.
Tradisi macapatan di Kota Santri semakin langka. Mencari orang yang mahir nembang ibarat menyisir jarum di tumpukan jerami. Lelaki bernama Mat Kauli ini bertekad melestarikan macapat. Dia sudah tua.
UMAR WIRAHADI
DARI kejauhan, sayup-sayup terdengar suara macapat. Semakin dekat, nada tembang tradisional Jawa tersebut kian nyaring. Iramanya panjang, mendayu-dayu. Suara itu semakin jelas saat Jawa Pos berhenti di depan rumah yang berlokasi di Desa Gemantar, Kebomas, tersebut.
”Kalau waktu sedang luang begini, saya suka baca (macapat, Red),” kata pria sepuh itu Rabu siang (28/6). Di usianya yang sudah lebih dari delapan dasawarsa, Mat Kauli tampak masih sangat energik. Bahkan, membaca pun tak perlu kacamata.
Dia membaca tembang berjudul Serat Ambiya’. Berkisah tentang sejarah para nabi, mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW. Iramanya panjang. Sebab, Mat Kauli membaca dengan cengkok asli Gresik. Nadanya terdengar lebih panjang.
”Cengkok Gresik ini sering dianggap agak susah karena nadanya yang panjang. Cengkok Jawa Tengah lebih pendek-pendek dan agak cepat,” ujarnya.
Mat Kauli berguru langsung dari ayahnya, Niti Sastro Samardi. Dia belajar sejak masih 17 tahun. Kemauan belajarnya sirna karena keluarga Mat Kauli harus mengungsi pada 1948. Saat itu, desanya dibakar tentara Belanda. Bahkan, dia tidak sampai tamat sekolah rakyat (SR). Mat Kauli hanya belajar sampai kelas III SR, lalu berhenti sekolah. ’’Bisa dibilang, saya ini tidak sekolah. Jadi saya tidak pantas dianggap guru,” ujarnya, merendah.
Kini dia mahir menembang macapat. Ada 11 tembang yang populer. Yakni, Pangkur, Maskumambang, Sinom, Asmaradana, Dhangdhanggula, Durma, Mijil, Kinanthi, Gambuh, Pucung, dan Megatruh. Masing-masing mengandung cengkok dan cerita yang berbeda-beda.
Mat Kauli selama ini dikenal sebagai penggiat macapat asli Gresik. Dia sangat ingin tradisi macapatan, khususnya macapat Gresik, tetap lestari. Jangan punah. Saat ini, ungkap kakek 28 cucu itu, dia sangat khawatir. Maklum, di era seperti ini, tradisi tersebut semakin jarang dilakukan. Padahal, macapatan merupakan tradisi Gresik sejak zaman Sunan Giri dan generasi sesudahnya. ’’Ini harus dilestarikan. Jangan sampai putus di generasi sekarang,” imbuhnya. Matanya kemudian menerawang.
Demi tekad tersebut, Mat Kauli berjuang meski sendiri. Di usianya yang senja, dia aktif mengisi acara macapatan di berbagai tempat di Gresik. Bahkan luar kota. Terkadang, dia pulang tanpa diberi sangu. Bahkan, dia rela berkoban waktu maupun biaya. Misalnya, naik angkutan atau ojek ke lokasi acara. ’’Jangankan diberi uang saku. Dijemput dari rumah ke tempat acara saja, saya sudah senang,” tuturnya.
Saat ini, dia rutin mengisi acara di kantor Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik. Di sana ada beberapa orang yang belajar membaca tulisan aksara Jawa kuno tersebut. ’’Ada yang mau belajar, saya senang sekali,” katanya.
Semangat Mat Kauli agar tradisi macapat tetap lestari memang sangat besar. Selain mengajar tanpa pamrih, dia rela menulis ulang buku peninggalan almarhum ayahnya, Niti Sastro Samardi. Mat Kauli mengalihaksarakan huruf Jawa ke tulisan Latin. Tujuannya, semua orang bisa membaca bunyi tulisan meskipun tidak tahu artinya.
Untuk menyelesaikan misi itu, dia bekerja siang-malam. Mat Kauli membutuhkan waktu sekitar 14 bulan untuk menuntaskan pekerjaan tersebut. Dia menulis dari 10 Juli 2010 sampai 10 Agustus 2011. Buku yang dalam bahasa Jawa hanya setebal 995 halaman itu bertambah menjadi 2.222 halaman setelah diterjemahkan dalam huruf Latin. Mengapa? Banyak ungkapan dalam aksara Jawa yang perlu penjelasan panjang lebar dalam hurus Latin.
”Kalau ada waktu, saya langsung tulis ulang. Meskipun sampai malam,” ujar lelaki yang kini memiliki 13 cicit itu.
Berkat ketelatenan Mat Kauli, kini serat Babad Pajang Mataram tercetak dalam tiga jilid buku. Tebal-tebal. Dia sendiri yang menjilid buku itu tanpa bantuan siapa pun. Serat tersebut banyak berkisah tentang kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Mulai Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha sampai kerajaan Islam Mataram dan Demak. ’’Karena sudah huruf Latin, sekarang semua orang bisa baca,” ucapnya. Mat Kauli tersenyum puas.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
