Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Januari 2017 | 02.58 WIB

Ikhsanul Haris, Kades Pencetus Wisata Mangrove Banyuurip

WISATA BARU: Ikhsanul Haris (kiri) bersama warganya di ekowisata dan konservasi mangrove di Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah. - Image

WISATA BARU: Ikhsanul Haris (kiri) bersama warganya di ekowisata dan konservasi mangrove di Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah.

Sejak 2015, Gresik punya destinasi wisata baru. Yakni, Ekowisata dan Konservasi MangroveDesa Banyuurip, Ujungpangkah. Berdirinya wahana wisata berkonsep alam itu tidak bisa lepas dari sosok sang Kades, Ikhsanul Haris.



ARIS IMAM MASYHUDI



KALA senggang, Ikhsanul Haris mengajak beberapa warga berkeliling ke kawasan wisata di pesisir laut Ujungpangkah. Dengan teliti, dia mengamati situasi di kawasan ekowisata.


Mulai kondisi jogging track dari kayu yang mengelilingi area konservasi mangrove hingga gazebo yang dipakai wisatawan untuk beristirahat.


Rasa puas sekaligus penasaran masih menggelayuti pikiran Ikhsan. Sebab, hasil ekowisata tersebut mulai terlihat. Apalagi, wahana 1 hektare itu kini mulai ramai dikunjungi masyarakat.


”Tidak mudah untuk merealisasikan wahana tersebut,” ucapnya.  Setelah terpilih sebagai Kades pada 2013, mantan pendidik di salah satu ponpes ternama di Kecamatan Dukun itu punya mimpi agar Banyuurip memiliki ikon wisata baru.


Dipilihlah kawasan hutan mangrove di desa tersebut. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Kondisi kritis hutan mangrove di pesisir laut Banyuurip membuat Ikhsan prihatin.


”Bila hutan mangrove rusak, hal tersebut akan berimbas pada kehidupan warga setempat,” paparnya. Tak hanya abrasi yang makin parah, aktivitas para nelayan juga kerap terganggu.


”Dari situ, saya bersama para tokoh sepakat untuk membenahi hutan mangrove. Tidak hanya dibenahi, melainkan juga dijadikan wahana wisata,” ujar pria 38 tahun itu.


Namun, realisasi misi tersebut ternyata tidak mudah. Sejumlah penolakan bermunculan pada awal persiapan pembangunan. Yang paling sering terdengar adalah rasan-rasan ”paling-paling iki ngenakno petinggi.”


Maksudnya, program itu hanya bermanfaat bagi petinggi di desa. Ditambah, muncul penolakan dari sebagian nelayan di sana. Nelayan khawatir wahana baru tersebut berpengaruh pada kelangsungan mata pencaharian mereka.


Rasan-rasan itu dijawab Ikhsan dengan rutin keliling bersama tokoh setempat. Mereka membeberkan tujuan dan manfaat pembenahan hutan mangrove. Awalnya tidak mudah.


Namun, warga akhirnya luluh dengan konsep yang ditawarkan sang Kades. Bahkan, warga dan nelayan ikut terlibat. Bukan hanya pembangunan, tapi juga pengelolaan.


”Tempat itu bisa menjadi alternatif bagi nelayan ketika mengalami barapan (paceklik bagi para nelayan, Red),” ujar bapak dua anak tersebut.


Dari situlah, para nelayan dan warga akhirnya membentuk komunitas bernama Pelestari Mangrove Tirta Buana Banyuurip. Lewat program corporate social responsibility (CSR) sebuah perusahaan migas, hutan mangrove itu mulai ditata.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore