Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2023 | 20.54 WIB

Adaptasi Pelabuhan Tanjung Emas terhadap Pasang Laut dan Rob, Bakal Kembangkan Alat Sensor Ketinggian Laut

DI BIBIR LAUT JAWA: Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Pasang laut dan rob pada Mei dan Desember paling diwaspadai di pelabuhan ini. - Image

DI BIBIR LAUT JAWA: Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Pasang laut dan rob pada Mei dan Desember paling diwaspadai di pelabuhan ini.

Pelindo Regional 3 meninggikan jalan, membangun tanggul, dan mengoperasikan puluhan pompa untuk menjaga aktivitas Pelabuhan Tanjung Emas agar tak terganggu pasang laut serta rob. Pengoperasian pompa pun diawasi 24 jam.

DIAN WAHYU PRATAMA, Semarang

---

SEPULUH tahun lalu, kondisi yang terjadi pada Jumat (14/7) pagi lalu itu hampir pasti akan menghentikan aktivitas bongkar muat.

Sebab, ketinggian pasang laut tak sampai 1 meter saja, air sudah masuk ke bibir dermaga Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

Tapi, tidak pada Jumat pagi lalu itu. Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menginformasikan terjadinya pasang air laut berketinggian 0,8 meter, bongkar muat kayu di Pelabuhan Dalam, Tanjung Emas, tetap berlangsung seperti biasa.

Glori Sutomo, koordinator lapangan bongkar muat kayu, pun tetap bisa melaksanakan tugas mengecek kayu-kayu yang turun. Sebelum kemudian dimasukkan ke truk menggunakan crane.

”Tentu (kalau air masuk dermaga) sangat mengganggu aktivitas bongkar muat kayu,” papar pria 43 tahun tersebut kepada Jawa Pos pada Jumat pagi lalu itu.

Pasang air laut yang diikuti rob adalah kehendak alam. Namun, adaptasi yang dilakukan beberapa tahun ke belakang membuat Tanjung Emas jadi lebih siap menghadapi kondisi tersebut.

Faisal merasakan sekali perubahan itu. Salah seorang pemilik kapal pelayaran rakyat (pelra) itu mengatakan, sejak dilakukan peninggian lining dermaga, saat pasang air tidak langsung masuk ke dermaga.

Itu membuat aktivitas bongkar muat di kapal pelra tidak perlu harus menunggu air laut surut. ”Sangat beda dengan sepuluh tahun yang lalu,” terangnya.

Peninggian lining hingga mencapai 1 meter di atas dermaga membuat rob yang masuk ke dermaga surut maksimal empat jam. ”Jadi, tidak lama,” tambahnya.

Adaptasi dengan kondisi alam di pelabuhan yang berada di gigir Laut Jawa tersebut mulai dilakukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 3 sejak 2014. General Manager Regional 3 Tanjung Emas Hardianto menjelaskan, pola adaptasi tersebut dimulai dengan peninggian jalan di area pelabuhan. Khususnya di area yang rawan terdampak banjir rob.

PANTAU KONDISI: GM Pelindo Regional 3 Tanjung Emas Hardianto (kiri) bersama Staf Peralatan dan Instalasi Pelabuhan Tanjung Emas Hizkia Pandhega sedang mengecek kolam retensi (14/7).

Peninggian tersebut dilaksanakan secara bertahap dengan ketinggian hingga 50 sentimeter. Pihaknya juga telah memasang pompa berkekuatan maksimal 800 liter per sekon (lps).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore