Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Januari 2017 | 04.40 WIB

Punakawan Pengurus Taman Abhirupa Krian, Ada Yang Merusak Mentolo Ngajak Gelut Ae

BERDEDIKASI: Dari kiri, Anton Hariono, Mulyono, Andik Setiawan, dan Slamet. Keempatnya adalah pengurus ruang hijau terbuka Krian, termasuk Slamet Kumpo. - Image

BERDEDIKASI: Dari kiri, Anton Hariono, Mulyono, Andik Setiawan, dan Slamet. Keempatnya adalah pengurus ruang hijau terbuka Krian, termasuk Slamet Kumpo.

Di balik perubahan drastis, tersimpan segudang cerita. Itulah gambaran proses pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) Kecamatan Krian. Lahan yang dahulu menjadi tempat prostitusi kini berubah menjadi RTH bernama Taman Abhirupa. Semua terlaksana berkat campur tangan lima pria yang dijuluki Punakawan Krian.



RESVIA AFRILENE



PASAR Sapi Krian tidak hanya tersohor di kalangan warga atau pedagang hewan ternak Kota Delta. Pedagang dari luar kota seperti Mojokerto, Surabaya, Gresik, dan Pasuruan juga familier dengan pasar yang lebih terkenal sebagai Pasar Kliwon itu.


Konon pasar tersebut berdiri sejak 1968. Lokasinya berada di Dusun Bibis Timur, Kelurahan Tambak Kemerakan, Kecamatan Krian.


Kini wajah Pasar Sapi Krian sudah berubah. Di atas lahan 5 hektare yang hanya selisih 300 meter dari Stasiun Krian itu, sudah dibangun sebuah taman kota.


Statusnya, RTH publik, yakni ruang terbuka yang ditanami aneka jenis pepohonan sebagai lahan hijau untuk dimanfaatkan masyarakat.


Taman tersebut kemudian diberi nama oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) M. Bahrul Amig sebagai Taman Abhirupa. ’’Wajah sang bapak. Jadi, doanya supaya bukan lagi perkampungan prostitusi,’’ ujar Anton Hariono.


Anton merupakan salah seorang anggota dari tim pengurus RTH tersebut. Selain dia, ada lagi 4 rekannya yang direkrut DKP, sekarang bernama DLHK, untuk tugas itu. Mereka adalah Mulyono, 41; Andik Setiawan, 44; Slamet, 61; dan Slamet Susilo, 40.


’’Kalau Pak Slamet (Susilo), panggilannya Slamet Kumpo soalnya dulu tukang bor,” sahut Andik, lalu tertawa terpingkal-pingkal.


Lima pria itu mendapat julukan Punakawan karena kompak bersahabat sejak kecil. Slamet dan Anton dianggap sebagai Petruk, Mulyono si Semar, sedangkan Slamet Susilo jadi Gareng.


’’Nah, Andik itu Bagong soalnya perutnya besar,’’ seloroh Anton. Saat ditemui Jawa Pos pada Kamis (5/1), Slamet Kumpo sedang memiliki keperluan keluarga.


Pagi itu keempatnya sibuk membersihkan areal RTH. Slamet mendapat tugas menyapu. Andik terlihat bersama Kepala Seksi Pertamanan DLHK Moch. Rochjadi Hafiluddin.


Keduanya memotret salah satu sarana bermain anak-anak berupa perosotan yang dilengkapi lorong-lorong bermacam warna. Karena seringnya dibuat bermain, mainan tersebut sudah jebol di bagian papan penumpunya.


Menurut Anton, pada Sabtu dan Minggu, pengunjung Taman Abhirupa membeludak. Sekarang Taman Abhirupa memang indah, asri, dan menjadi jujukan favorit keluarga untuk berlibur.


Dulu lokasi itu adalah pusat konflik. Yakni, polemik keberadaan bisnis malam bagi para germo. Belum lagi ada 89 kepala keluarga (KK) yang mendirikan bangunan liar di sekeliling pasar sapi tersebut.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore