Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Mei 2017 | 19.44 WIB

Kehidupan Baru Aldi ”Balita Perokok” Suganda dari Musi Banyuasin

TOMI KURNIAWAN/SUMATERA EKSPRES STOP NIKOTIN: Aldi Suganda bersama sang ibu, Diana. Aldi kecil sempat geger karena kecanduan rokok. - Image

TOMI KURNIAWAN/SUMATERA EKSPRES STOP NIKOTIN: Aldi Suganda bersama sang ibu, Diana. Aldi kecil sempat geger karena kecanduan rokok.

Aldi Suganda, bocah yang pernah bikin heboh beberapa tahun lalu dengan kecanduan merokoknya, akhirnya bisa mengucapkan selamat tinggal pada nikotin. Jika dulu sehari dia bisa menghabiskan empat bungkus rokok, Aldi yang kini berusia hampir 9 tahun sudah berhenti total.

Tomi Kurniawan, Musi Banyuasin

RUMAH permanen yang berlantai keramik berdiri kukuh di RT 7, RW 4, Kampung Teluk Kemang, Kelurahan Sungai Lilin, Musi Banyuasin, Sumsel. Itulah rumah Aldi yang dulu terkenal karena kecanduan merokok layaknya orang dewasa.

Ada sofa yang berbahan kulit warna cokelat di ruang tamu serta lemari dengan lapisan marmer lengkap dengan isinya. Sebelum seperti sekarang, kehidupan Aldi menjadi buah bibir di mana-mana. Banyak pihak yang datang untuk membantu Aldi menghilangkan kebiasaannya. Salah satu yang diingatnya saat harus menjalani terapi. Dia menjalani terapi selama beberapa bulan di rumah Kak Seto. ”Aldi mulai kecanduan rokok sejak usia dua tahun dua bulan,” ujar Diana, ibu Aldi.

Kebiasaan itu bermula ketika Aldi ikut Diana berjualan. Saat masih di dalam kandungan, Diana mengaku ngidam merokok selama tiga bulan saat hamil. ”Saat tahu, Aldi merokok sudah parah, Pak. Sehari bisa empat bungkus. Awalnya kami tidak mau kasih, tapi dia ngamuk bahkan meloncat dari ketinggian hingga berdarah,” katanya.

Semua kebiasaan jelek itu kini sudah hilang. Tak ada lagi kebiasaan membenturkan kepala dan melukai diri jika keinginan bocah kelahiran 8 Juni 2008 tersebut tidak dipenuhi.

Meski cukup berat, metode yang dilakukan di rumah Kak Seto membuat Aldi bisa lepas dari kecanduan. ”Waktu terapi, kalau dia ngambek, minta rokok ya dikasih,” tuturnya. Berkat dukungan dan saran dari banyak pihak, pola makan Aldi mulai dijaga dengan ketat.

Minum susu dikurangi. Lauk seperti ayam yang biasa sekali makan dua paha dikurangi satu saja. Ikan yang biasa dua hanya dikasih satu. ”Lama kelamaan, Aldi menyesuaikan diri dan beratnya sekarang 38 kilogram,” tutur Diana.

Sembari mendengarkan sang ibu bercerita, Aldi sibuk menunjukkan berbagai foto. Salah satunya foto Brianna, perempuan berkebangsaan Amerika Serikat, dan suaminya, Errol. Kisah Aldi sampai ke telinga Brianna. Karena tertarik, dia datang ke rumah Aldi. Hingga saat ini, mereka tetap menjalin komunikasi. Aldi menyimpan foto-foto dan surat yang dikirimkan Brianna. Salah satu yang menarik, Brianna mengirimkan foto depan toko dengan plang nama Aldi Food Market. ”Itu Brianna buka toko, kasih nama Aldi,” terangnya.

Perkembangan Aldi dari sisi pergaulan dan prestasi di mata pihak sekolah juga luar biasa. Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Teluk Kemang Syamsinah SPd MM mengakui itu. Bukan hanya sosok periang, nilai akademik Aldi juga selalu unggul dibanding teman-temannya.

”Dia selalu ranking sejak kelas I hingga sekarang. Katanya, dia ingin jadi dokter,” ujarnya. Syamsinah menilai muridnya itu anak yang sopan, baik tutur bahasa maupun tingkah laku. Sebuah pengakuan pun tercetus bahwa Aldi memang sudah berubah dibanding saat kecil dulu. (*/ce1/c21/ami)

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore