Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 November 2016 | 00.28 WIB

Wayang Airlangga, Pendatang Baru Lakon Pewayangan di Indonesia

SENTUHAN BALI: Tri Kundono di antara gunungan Wayang Airlangga ciptaannya. - Image

SENTUHAN BALI: Tri Kundono di antara gunungan Wayang Airlangga ciptaannya.



Salah satu perpaduan budaya yang cukup kental dalam karakter Wayang Airlangga tersebut adalah perpaduan kultur Jawa dan Bali. Dua budaya itu dipilih lantaran sang raja memiliki keturunan dari para raja di dua pulau tersebut.



Ayah Airlangga adalah raja Udayana dari Bali dan ibunya Mahendradatta dari Kerajaan Medang, Jawa Tengah. Gunungan untuk tancep kayon (membuka dan menutup pergelaran), misalnya.



Satu gunungan berbentuk lonjong, berisi pura, gajah, dan pohon. Sementara itu, gunungan lainnya berbentuk kerucut segi tiga yang berisi beberapa hewan seperti ular dan pohon.



’’Gunungan pertama memang khas Bali. Dan tak akan ditemui saat pergelaran wayang di Jawa. Sedangkan yang kedua, sudah sering kita lihat pada pementasan wayang di Jawa,’’ ungkapnya sambil menunjuk gunungan dengan logo Unair di atas gunungan.



Selain gunungan, beberapa mahkota raja menggunakan tradisi Bali. Model rambut sedikit ditekuk dengan beberapa bunga terselip di antara mahkota. Hiasan berupa bunga warna ungu tersebut juga terlihat menghiasi rambut para permaisuri, istri raja.



Tri menyebutkan, saat ini dirinya menyelesaikan puluhan tokoh lagi yang akan mendukung pementasan Wayang Airlangga. Yakni, ada sekitar 82 tokoh lagi yang bakal dikembangkan. Ditargetkan, kekurangan itu akan dia rampungkan awal 2017.



’’Doakan semoga lancar,’’ ungkapnya. Ketua Festival Budaya dan Ekonomi Kreatif Unair Bambang Tjahjadi menyampaikan, konsep pembuatan Wayang Airlangga tersebut sebenarnya dimulai pada 2015.



Yang mengusulkan adalah Sri Teddy Rusdy, salah seorang alumnus Unair. Waktu itu, dia membuat satu wayang dengan tokoh Airlangga.



’’Saat itu sudah dipentaskan oleh budayawan Sujiwo Tejo. Setelah pentas, Unair akhirnya terpikir untuk membuat versi lengkapnya awal tahun lalu,’’ ungkap guru besar akuntansi Unair tersebut.



Dorongan untuk membuat tokoh Wayang Airlangga itu juga berasal dari keprihatinan melihat minimnya variasi cerita yang dibawa saat pementasan wayang. Umumnya mencuplik epos Mahabarata dan Ramayana dari India.



Sementara itu, cerita yang bersumber dari tradisi lokal belum banyak ditulis. ’’Karena kebetulan kampus ini (Unair, Red) menggunakan Airlangga sebagai nama lembaga, maka tokoh itulah yang ingin kami angkat,’’ ujar lelaki yang hobi memakai jarit saat beraktivitas tersebut.



Bambang berpesan, setelah seri penggarapan tokoh Wayang Airlangga rampung, Unair juga akan mempromosikan inovasi budaya baru tersebut kepada khalayak luas. Mulai tingkat regional, nasional, hingga mancanegara.



Saat ini Unair sudah mementaskan beberapa lakon wayang uwong (wayang orang, Red) dengan lakon Airlangga di beberapa pementasan nasional.



Ke depan, selain dua pertunjukan budaya tersebut, Unair akan membuat film animasi tentang tokoh Airlangga supaya menarik minat banyak generasi muda.



’’Khususnya pada anak-anak supaya mereka lebih mengenal sejarah bangsa,’’ ungkapnya. (*/c5/dos/sep/JPG)

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore