Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Juli 2017 | 15.50 WIB

Jasa Menggosok dengan Setrika Arang, di Tengah Serbuan Rumah Laundry

Sahrial saat mengerjakan gosokan orderan yang datang - Image

Sahrial saat mengerjakan gosokan orderan yang datang

JawaPos.com - Ada  yang menarik di tengah hiruk-pikuk Pasar Sitimang yan ramai setiap pagi. Di tengah ramainya suara tawar-menawar pedagang dan pembeli, penulis tertarik ketika melihat sesosok pria paruh baya yang sedang duduk termenung sendiri sambil sesekali melihat kearah  ujung lorong. Ia adalah Sahrial, penjual jasa penggosok baju dengan setrika arang.


YANI TAYIB


“Abis Lebaran sepi, dak kayak puasa kemaren masih mendinglah,” ungkap Sahrial saat dijumpai Jambi Ekspres (Jawa Pos Group).


Sahrial, ayah empat orang anak ini masih setia menunggu datangnya orderan siang itu.  Ia  merupakan satu dari 3 pria yang  berprofesi sebagai penggosok baju. Di tengah kepadatan Pasar Sitiminang ini memang masih terdapat  pria-pria yang setia menerima jasa setrika baju dengan  setrika arang. 


Disebuah lorong kecil, berdekatan dengan pedagang pernak-pernik keramik, Sahrial bersama rekannya mangkal. Namun hari itu, Sahrial memang tengah sendiri. Usai lebaran, temannya belum kembali membuka jasa setrika. 


Sesekali pria  kelahiran tahun 1965 ini  melihat-lihat kearah arang setrikaan arangnya yang tengah membara. Setrikaan ini memang selalu standby dengan bara api yang menyala, sebab sewaktu-waktu ada saja orderan setrika baju yang datang. 


“Sejak  ado laundry tuh kami sepi, paling orderan datang dari tukang jahit sekitar sini,” jelasnya. 


Meski begitu, diakui Sahrial selalu ada saja orderan setrika baju yang berdatangan. Tak tanggung-tanggung terkadang orderan setrika  yang Ia terima juga dari orang-orang penting Kota ini. Dari para tukang jahit yang menjadi relasi usahanya, Sahrial mengakui pernah menggosok beberapa baju dari  pejabat. 


“Macam-macam lah yang sering gosok sini, pejabat juga ado, polisi sampai baju Bupati jugo pernahlah. Tapi bukan mereka datang langsung, dari tukang jahitnyo,” tegasnya.


Disela-sela mengobrol santai dengannya, terlihat seorang wanita yang hampir seusia Sahrial mendekatinya. 


Perempuan berkerudung itu langsung memberikan  satu steel pakaian pria kepada Sahrial. Tak ada basa-basi, Sahrial langsung menerima baju tersebut dan secepat kilat mengambil setrika arangnya yang dari tadi tertonggok diujung meja kerjanya.  


“Yo ginilah, paling banyak dari tukang jahit,” katanya sambil menggosok baju tersebut dengan hati-hati. 


Sejak tahun 1987, Sahrial memang telah memulai jasa setrika baju dengan arang ini. Meski sudah berjalan lama, jasa ini tidak begitu saja membuat kehidupan ekonomi Sahrial berubah. Sekali setrika, Sahrial menerima upah Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu. Sedangkan dalam sehari penghasilan yang ia dapat berkisar Rp 30 sampai Rp 40 ribu. 


Meski saat ini jasa laundry semakin marak, namun Ia yakin akan selalu ada masyarakat yang meminta untuk disetrika pakaiannya dengan setrika tradisional ini. 


Alasannya beragam, kebanyakan pelanggan mengatakan setrika arang ini membuat pakaian jauh lebih rapi dan tidak membuat warna pakaian pudar. 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore