
UBAH NASIB: Heni Sri Sundani di depan taman bacaannya di Bogor. Aksinya selalu berorientasi kepada pemberdayaan kaum dhuafa dan petani.
Berbekal masa kecil yang susah, Heni Sri Sundani menginisiatori lahirnya Smart Farmer Kids In Action & AgroEdu Jampang Community. Kesuksesan gerakan itu membuat nama mantan TKW tersebut masuk menjadi salah seorang anak muda berpengaruh di Asia versi majalah Forbes.
DINDA JUWITA, Bogor
Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaika...
Kalimat yang tak henti menggema di Tanah Suci tersebut membuat Heni Sri Sundani hanyut dalam kekhusyukan ibadah umrah awal tahun lalu. Kekhidmatan beribadah bersama sang suami Aditia Ginantaka itu membuat Heni tak menghiraukan belasan dering panggilan telepon di ponselnya.
”Lalu tiba-tiba ada SMS perkenalan dari orang yang mengaku dari majalah Forbes Indonesia,” ujar Heni ketika ditemui Jawa Pos di rumahnya di Desa Lemah Duhur, Caringin, Bogor, Jawa Barat, Senin (1/5).
Kala itu Heni bergeming. Dia tak menanggapi SMS tersebut dan tetap fokus menjalankan ibadah umrah. Dia belum tahu maksud dan tujuan Forbes ngotot menghubunginya. Meski begitu, Heni sempat memberikan alamat e-mail-nya kepada orang itu.
Sepulang dari ibadah haji kecil di Makkah dan Madinah tersebut, Heni kembali dihubungi pihak Forbes. Saat itu ganti Forbes Hongkong yang mengontaknya via e-mail. ”Mereka (Forbes) ternyata sedang mencari anak-anak muda di Asia dan Australia yang dinilai berpengaruh serta berdedikasi gitu,” ujar Heni dengan logat Sunda yang kental.
Tak sampai sebulan, Heni terperanjat saat namanya dimasukkan sebagai salah satu di antara sedikit anak muda berpengaruh di Asia versi majalah yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat, tersebut. ”Semula saya kira itu hoax. KanForbes keren banget. Isinya orang-orang sukses semua. Waktu saya jadi TKW (tenaga kerja wanita, Red) di Hongkong. Bos saya sering langganan itu,” ungkapnya.
Kegembiraan Heni bertambah saat mengetahui foto dirinya terpampang di tautan yang ada dalam surat elektronik yang dikirimkan Forbes tersebut. Perempuan 29 tahun itu disejajarkan dengan anak-anak muda dalam kategori social entrepreneurs di majalah bisnis bergengsi tersebut. Dia dinilai sebagai anak muda berpengaruh di Asia lewat gerakan anak petani cerdas Smart Farmer Kids In Action & AgroEdu Jampang Community.
Terlahir sebagai anak dari keluarga miskin di Ciamis, Jawa Barat, Heni sejak kecil memang ingin mengubah nasib. Bukan hanya suratan takdir keluarganya, tapi juga lingkungan di sekitarnya. ”Orang tua saya buruh tani, tapi mereka divorced ketika saya masih kecil. Saya nggak pernah ketemu dengan ayah. Saya ikut nenek,” cerita dia.
Kehidupan susah dijalani Heni di rumah nenek. Untuk pergi ke sekolah, misalnya, dia mesti menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Saat masih SD, Heni berjalan kaki pergi pulang (PP) ke sekolah dalam dua jam. Kala SMP lebih jauh lagi. Dia harus jalan kaki empat jam PP.
Kendati begitu, Heni tidak patah arang. Buktinya, dia tetap juara kelas hingga lulus SMK. Dia juga doyan baca buku. ”Saya sering menghabiskan waktu ke gudang buat baca buku. Sehari satu buku,” kenangnya.
Sayang, nenek Heni tak kuat membiayai kuliah cucunya. Maka, selulus SMK, Heni memutuskan untuk mencari pekerjaan. Tak tanggung-tanggung, dia langsung terbang ke Hongkong sebagai TKW. Hidup di wilayah yang kini menempati peringkat ke-9 terbaik secara global dalam hal keunggulan daya saing ekonomi menurut World Economic Forum tersebut membuat mata Heni terbuka lebar. Banyak peluang yang bisa didapatkannya untuk mengubah nasib menjadi lebih baik daripada bekerja sebagai babysitter di Hongkong.
Kala itu, tanpa sepengetahuan sang majikan, Heni menghabiskan jatah hari libur dengan kuliah di Diploma 3 IT Saint Mary’s University. Dia juga belajar di perpustakaan yang merupakan fasilitas umum di Hongkong dan bisa diakses siapa pun secara gratis. Selain itu, dari hasil tabungannya, Heni mampu membeli laptop.
Diam-diam Heni mulai sering mengirimkan berbagai tulisan ke koran, majalah, atau tabloid berbahasa Indonesia di Hongkong. Dia juga mengikuti berbagai lomba. Dari situ, bukan hanya kemampuannya menulis yang terasah, tetapi uang kuliahnya juga terbayar.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
