Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 Mei 2017 | 23.00 WIB

Heni Sri Sundani, Mantan TKW yang Masuk Anak Muda Berpengaruh di Asia

UBAH NASIB: Heni Sri Sundani di depan taman bacaannya di Bogor. Aksinya selalu berorientasi kepada pemberdayaan kaum dhuafa dan petani. - Image

UBAH NASIB: Heni Sri Sundani di depan taman bacaannya di Bogor. Aksinya selalu berorientasi kepada pemberdayaan kaum dhuafa dan petani.


Berbekal masa kecil yang susah, Heni Sri Sundani menginisiatori lahirnya Smart Farmer Kids In Action & AgroEdu Jampang Community. Kesuksesan gerakan itu membuat nama mantan TKW tersebut masuk menjadi salah seorang anak muda berpengaruh di Asia versi majalah Forbes.




DINDA JUWITA, Bogor




Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaika...



Kalimat yang tak henti menggema di Tanah Suci tersebut membuat Heni Sri Sundani hanyut dalam kekhusyukan ibadah umrah awal tahun lalu. Kekhidmatan beribadah bersama sang suami Aditia Ginantaka itu membuat Heni tak menghiraukan belasan dering panggilan telepon di ponselnya.



”Lalu tiba-tiba ada SMS perkenalan dari orang yang mengaku dari majalah Forbes Indonesia,” ujar Heni ketika ditemui Jawa Pos di rumahnya di Desa Lemah Duhur, Caringin, Bogor, Jawa Barat, Senin (1/5).



Kala itu Heni bergeming. Dia tak menanggapi SMS tersebut dan tetap fokus menjalankan ibadah umrah. Dia belum tahu maksud dan tujuan Forbes ngotot menghubunginya. Meski begitu, Heni sempat memberikan alamat e-mail-nya kepada orang itu.



Sepulang dari ibadah haji kecil di Makkah dan Madinah tersebut, Heni kembali dihubungi pihak Forbes. Saat itu ganti Forbes Hongkong yang mengontaknya via e-mail. ”Mereka (Forbes) ternyata sedang mencari anak-anak muda di Asia dan Australia yang dinilai berpengaruh serta berdedikasi gitu,” ujar Heni dengan logat Sunda yang kental.



Tak sampai sebulan, Heni terperanjat saat namanya dimasukkan sebagai salah satu di antara sedikit anak muda berpengaruh di Asia versi majalah yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat, tersebut. ”Semula saya kira itu hoax. KanForbes keren banget. Isinya orang-orang sukses semua. Waktu saya jadi TKW (tenaga kerja wanita, Red) di Hongkong. Bos saya sering langganan itu,” ungkapnya.



Kegembiraan Heni bertambah saat mengetahui foto dirinya terpampang di tautan yang ada dalam surat elektronik yang dikirimkan Forbes tersebut. Perempuan 29 tahun itu disejajarkan dengan anak-anak muda dalam kategori social entrepreneurs di majalah bisnis bergengsi tersebut. Dia dinilai sebagai anak muda berpengaruh di Asia lewat gerakan anak petani cerdas Smart Farmer Kids In Action & AgroEdu Jampang Community.



Terlahir sebagai anak dari keluarga miskin di Ciamis, Jawa Barat, Heni sejak kecil memang ingin mengubah nasib. Bukan hanya suratan takdir keluarganya, tapi juga lingkungan di sekitarnya. ”Orang tua saya buruh tani, tapi mereka divorced ketika saya masih kecil. Saya nggak pernah ketemu dengan ayah. Saya ikut nenek,” cerita dia.



Kehidupan susah dijalani Heni di rumah nenek. Untuk pergi ke sekolah, misalnya, dia mesti menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Saat masih SD, Heni berjalan kaki pergi pulang (PP) ke sekolah dalam dua jam. Kala SMP lebih jauh lagi. Dia harus jalan kaki empat jam PP.



Kendati begitu, Heni tidak patah arang. Buktinya, dia tetap juara kelas hingga lulus SMK. Dia juga doyan baca buku. ”Saya sering menghabiskan waktu ke gudang buat baca buku. Sehari satu buku,” kenangnya.



Sayang, nenek Heni tak kuat membiayai kuliah cucunya. Maka, selulus SMK, Heni memutuskan untuk mencari pekerjaan. Tak tanggung-tanggung, dia langsung terbang ke Hongkong sebagai TKW. Hidup di wilayah yang kini menempati peringkat ke-9 terbaik secara global dalam hal keunggulan daya saing ekonomi menurut World Economic Forum tersebut membuat mata Heni terbuka lebar. Banyak peluang yang bisa didapatkannya untuk mengubah nasib menjadi lebih baik daripada bekerja sebagai babysitter di Hongkong.



Kala itu, tanpa sepengetahuan sang majikan, Heni menghabiskan jatah hari libur dengan kuliah di Diploma 3 IT Saint Mary’s University. Dia juga belajar di perpustakaan yang merupakan fasilitas umum di Hongkong dan bisa diakses siapa pun secara gratis. Selain itu, dari hasil tabungannya, Heni mampu membeli laptop.



Diam-diam Heni mulai sering mengirimkan berbagai tulisan ke koran, majalah, atau tabloid berbahasa Indonesia di Hongkong. Dia juga mengikuti berbagai lomba. Dari situ, bukan hanya kemampuannya menulis yang terasah, tetapi uang kuliahnya juga terbayar.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore