Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Februari 2017 | 17.05 WIB

Uniknya Jembatan Bakubung, Jembatan Tua di Sungai Tabukan

Seorang warga melintas Jembatan Bakubung yang telah berusia dua abad  lebih. - Image

Seorang warga melintas Jembatan Bakubung yang telah berusia dua abad lebih.

JawaPos.com - Di tengah modernisasi, khususnya pembangunan kontruksi, ada satu yang jembatan unik yang tetap kokok berdiri di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimatan Selatan. Namanya,  Jembatan Bakubung yang terbuat dari kayu ulin ini, tetap kokoh berdiri menghubungkan warga Kecamatan Sungai Pandan (Alabio) dan Sungai Tabukan.


Berada di Desa Galagah,jembatan  ini sangat unik karena dilengkapi atap seperti bangunan tradisional. Desain khas Banjar menjadikan jembatan berkontruksi ulin ini  menjadi ikon di dua kecamatan tersebut . Warga HSU sangat familiar dengan Bakubung yang konon tinggal satu-satunya di kota berjuluk "Kota Itik" tersebut.


Pemerhati Budaya dan Sejarah HSU Ahdiat Gazali Rahman mengatakan, Jembatan Bakubung yang dulunya merupakan wilayah Sungai Pandan atau lebih dikenal sebagai Alabio kala itu, merupakan salah satu akses penyeberangan warga yang paling terkenal dizamannya.


Jembatan ini telah berdiri pada tahun 1835 sampai pada hari ini. Selama waktu itu, jembatan masih tetap kokoh dan hanya dua kali mengalami mengalami rehab total, pada 1998 sampai 1999 tadi. "Jadi ada hampir dua abad Jembatan Bakubung kami baru mengalami perubahan," sebutnya.


Terkait nama Bakubung yang melekat di fasilitas penyeberangan kayu berbahan kayu ulin super kokoh tersebut, mungkin secara kasat mata karena adanya serobong (Tenda, red) yang menutupi tengah jembatan.


"Fungsinya sebagai sarana komunikasi warga, entah bertukar pikiran atau informasi kala itu. Selain lokasi berteduh warga dikala hujan," terangnya seperti ditulis Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Minggu (5/2).


Dia mengatakan ini merupakan jembatan satu-satunya di HSU bahkan mungkin di Provinsi Kalimantan Selatan  yang unik, dan harus tetap dilestarikan keberadaannya.


"Memang tantangan jembatan kayu saat ini memiliki kapasitas beban yang terbatas. Jikapun mungkin pesona Bakubung sebagai jembatan informasi dan silaturahmi warga tetap dipertahankan, meskipun berubah raga menjadi beton dan baja," cetusnya.


Fakta unik jembatan bercat kuning dan hijau tersebut, juga diutarakan oleh Anang Sufri warga Desa Gelagah yang tepat bermukim di samping jembatan.


"Ini jembatan kebanggaan masyarakat Alabio, meski saat ini Alabio dimekarkan menjadi satu kecamatan yakni Sungai Tabukan. Ini jembatan legenda, sebab umurnya yang lebih dari dua ratus tahun," sebutnya.


Keunikannya lagi kubung jembatan tetap mempertahankan atap rumah orang Banjar. Tak terhenti disitu saja, jembatan ini juga diapitdua musalah  yakni Musala  di Desa Gelagah Hulu bernama Nur Hidayah, dan satu Musalah  Nuruz Sahbirin di Desa Pemetang Benteng Hilir yang berada di sisi lainnya.  (mar/by/ran/nas)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore