
APRESIASI: Anggota komunitas Rail Fans Sahabat Kereta Api Indonesia memberikan lembaran sosialisasi kewaspadaan kepada Supenan, salah seorang relawan penjaga lintasan KA di Jalan Nias.
’’Di sana orang-orang suka nerobos meskipun tahu ada kereta mau lewat,” katanya. Biasanya kereta yang dalam kondisi melambat ketika melewati lintasan itu hendak masuk atau baru berangkat dari Stasiun Wonokromo. Tetap saja, selambat apa pun kereta, bahayanya sangat fatal bila tersambar.
Komunitas yang berdiri pada 19 Juni 2016 itu adalah gabungan dari berbagai komunitas. Awalnya, PT KAI Daop 8 membina beragam komunitas pencinta kereta api. Namun, banyak pula yang akhirnya kurang aktif berkegiatan.
Gatut Sutiyatmoko, manajer humas PT KAI Daop 8 sekaligus pembina komunitas, pun memutuskan untuk menyatukan anak-anak berbagai kelompok tersebut. Lahirlah Rail Fans SKAI yang menaungi seluruh daop 8. Antara lain, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Malang.
Karena berangkat dari bermacam-macam komunitas, kecintaan anggota Rail Fans SKAI pun beragam. Tito mengakui, sebagian besar berangkat dari hobi fotografi. Namun, ada juga yang gemar mengoleksi miniatur kereta, menghafalkan jadwal kereta, maupun menghafal rute kereta. Nyaris sama dengan macam-macam otaku alias pencinta kereta yang ada di Jepang.
Para anggota Rail Fans SKAI merasa senang bisa tergabung dengan komunitas yang sekarang. ’’Hobi jadi lebih terarah. Tidak seperti kalau ikut komunitas tidak resmi,” ungkap Mirza Ghulam, salah seorang anggota asal Surabaya. Remaja kelas X SMK itu mengakui, anggota Rail Fans SKAI sebenarnya tidak punya alasan jelas mencintai kereta api. ’’Pokoknya kalau lihat kereta api itu suka aja. Nggak tahu kenapa,” tuturnya.
Begitu cintanya pada kereta api, mereka sangat serius menanggapi masalah-masalah perusakan kereta yang sering terjadi akhir-akhir ini. Itu juga menjadi topik yang sering mereka angkat dalam penyuluhan dan edukasi. Perusakan itu, antara lain, berupa pelemparan batu, pemasangan paku di lintasan, sampai vandalisme alias mencoret-coret gerbong kereta. Mirza kemudian menunjukkan salah satu gerbong kereta eksekutif yang baru jadi dan dikeluarkan PT Inka. Sudah banyak coretan yang mengotori badan putihnya. ’’Padahal, ini masih gres, lho. Masih fresh from the oven,” ucap Mirza sambil geleng-geleng.
Begitu pula aksi pelemparan. Anggota Rail Fans SKAI yang berkumpul lantas membicarakan beberapa kasus fatal. Di antaranya, pelemparan batu di Bandung yang mengakibatkan asisten masinis buta. Ada pula kasus pelemparan batu di Alas Tua yang mengakibatkan masinis terluka dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Bahaya batu juga tidak hanya ketika dilempar. ’’Kadang ada yang iseng nyusun-nyusun batu di atas besi rel. Itu juga bahaya banget buat kereta,” imbuh Mirza. Dan, pelaku penyusunan batu itu biasanya anak-anak kecil.
Karena itu, anggota Rail Fans SKAI aktif memberikan edukasi kepada anak-anak usia dini. Beberapa kali mereka berpartisipasi dalam kegiatan EduTrain yang diadakan humas PT KAI Daop 8.
Dalam kegiatan itu, anak-anak TK diajak tur naik kereta api. Mereka diajari cara membeli tiket, kemudian diperkenalkan dengan bagian-bagian stasiun dan kereta api. Anak-anak juga berkenalan dengan masinis yang bertugas. Beberapa kereta menjadi favorit kegiatan EduTrain tersebut. Di antaranya, Jenggala (Mojokerto–Sidoarjo) dan Penataran (Surabaya–Malang).
’’Di sini, anak-anak dibiasakan supaya cinta kereta api,” jelas Mirza. Sebab, jika sejak kecil cinta kereta api, mereka akan tetap menjaga sarana dengan senang hati dan tidak merusak.
Mayoritas anggota Rail Fans SKAI mengaku ingin bekerja tidak jauh-jauh dari kereta. ’’Kalau bisa, jadi masinis,” ungkap Mirza. Sementara masih mengenyam pendidikan, banyak anggota Rail Fans SKAI yang ’’menyambi” jadi customer service on mobile. Tugas mereka, menjadi jembatan antara masyarakat dan kereta api. Terkadang mereka juga membantu petugas di stasiun.
Banyak pengalaman yang mereka petik dari kegiatan di lapangan tersebut. Misalnya, bertemu calon penumpang yang aneh-aneh atau marah-marah ketika ketinggalan kereta. ’’Ya kita jelaskan, itu di tiket jamnya tertulis pukul berapa, Bapak datang pukul berapa. Akhirnya orangnya diam,” ceritanya.
Gatut selaku pembina mengatakan, komunitas tersebut merupakan angin segar bagi dunia perkeretaapian. ’’Ini bukti bahwa generasi muda masih peduli pada perkembangan kereta api,” ujarnya.
Dia berharap komunitas Rail Fans SKAI bisa terus berkembang dan melahirkan banyak pencinta kereta api yang punya kepedulian sosial. ’’Kalau anggotanya semakin banyak, semakin luas juga cakupan kita untuk sosialisasi tentang keamanan kereta api,” lanjut Gatut. (*/c7/dos/sep/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
