Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Juni 2017 | 02.59 WIB

Giovanni Alif dan Ikan Cupang; Hobi yang Jadi Pundi-Pundi

JADI DUIT: Giovanni Alif menunjukkan ikan cupang koleksinya. Hobi yang ditekuni itu telah membawanya menjadi salah seorang eksporter ikan cupang. - Image

JADI DUIT: Giovanni Alif menunjukkan ikan cupang koleksinya. Hobi yang ditekuni itu telah membawanya menjadi salah seorang eksporter ikan cupang.



Kualitas ikan cupang di Amerika tidak bisa sebagus di Indonesia. Sebab, cuaca di Amerika kurang cocok. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki cuaca tropis. Karena itu, warga Amerika harus memakai matahari buatan, heater atau pemanas, lampu ultraviolet, dan sebagainya.



Menurut dia, cuaca di Indonesia sangat membantu membentuk kualitas ikan cupang. Untuk meningkatkan kualitas misalnya, ikan setiap hari harus dijemur. ”Tiap hari harus dijemur 10–15 menit. Itu biar bulunya buka,” ujarnya.



Pada dasarnya, ikan cupang terdiri atas tiga jenis. Yaitu, ikan cupang alam, ikan cupang hias, dan ikan cupang aduan. Masing-masing punya karakteristik dan keunikan sendiri. Misalnya, ikan cupang hias lebih mengedepankan penampilan dan rumbai ekor. ”Ikan cupang hias kalau dilombakan itu ganteng-gantengan,” terang Giovanni.



Salah satu yang terkenal dari ikan cupang adalah sebagai ikan aduan. Jenis ikan aduan itu punya bentuk dan postur yang lebih simpel. Ekornya pun biasa tanpa rumbai seperti yang dimiliki ikan cupang hias. ”Ikan cupang aduan memang didesain untuk bertarung sampai mati. Kalau lomba ikan aduan, penentuan menangnya kalau enggak mati, ya salah satunya lari,” ujarnya.



Ikan cupang alam sekarang semakin sulit dicari. Sebab, habitatnya terbatas. Sebaran ikan cupang alam berada di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. ”Untuk sekarang belum bisa menyediakan cupang alam. Soalnya, sangat sulit carinya,” terang Giovanni.



Semua jenis ikan cupang hias dan aduan berasal dari hasil persilangan ikan cupang alam. Persilangan itu membutuhkan waktu lama untuk memperoleh spesies yang istimewa. ”Ikan cupang alam itu bergigi paling tajam, tapi mentalnya kurang tangguh. Maka, sekarang sedang diupayakan untuk dikembangkan jadi ikan aduan. Tapi, ya masih butuh waktu yang lama, bisa sampai 7–8 kali persilangan,” ujar pria 25 tahun itu.



Sekarang Giovanni berfokus menjual ikan cupang di pasar ikan Gunungsari. Di sana, dia memiliki sebuah outlet khusus ikan cupang. Berbagai kualitas ikan cupang tersedia. Mulai yang harganya puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu. ”Yang paling murah biasanya Rp 25–50 ribu. Yang paling mahal bisa sampai Rp 300 ribu. Untuk kualitas ekspor sampai USD 80 per ekor,” jelasnya.



Ikan cupang memiliki banyak keunggulan. Salah satunya soal perawatan. Makanannya juga cukup mudah. Diberi cacing beku mau. Cacing sutra juga oke. Uget-uget alias jentik nyamuk pun disantap. Dalam kondisi normal, ikan cupang mampu bertahan hingga dua minggu tanpa makan.



Untuk event khusus seperti kontes ikan hias, biasanya ikan cupang harus disalon dulu. Ekor ikan dipotong biar rapi. Tapi, tidak semua kontes ikan cupang membolehkan hal itu. Proses perapian tersebut biasanya sekitar dua pekan sebelum lomba. Setelah dipotong, ekor itu akan tumbuh lebih rapi. Untuk biaya nyalon tersebut, per ikan dipatok Rp 25 ribu–50 ribu.



Saat ini ada tiga negara pengekspor ikan cupang terbesar. Yakni, Thailand, Malaysia, dan Kamboja. Menurut Giovanni, saat ini banyak ikan cupang dari Thailand yang masuk Indonesia. Warnanya lebih bagus. ”Mereka di sana bisa menghasilkan ikan yang bagus karena dukungan pemerintahnya. Durian aja bisa jadi durian montong,” ujarnya.



Giovanni pun berharap pemerintah bisa memberikan perhatian bagi komoditas ikan hias di Indonesia. Salah satunya ikan cupang. Sebab, menurut dia, ikan cupang memiliki pasar yang sangat besar. ”Perputaran ikan cupang cepat. Apalagi ikan aduan. Kalah menang, ya harus ganti ikan,” katanya. (*/c6/dos)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore