Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Agustus 2017 | 16.30 WIB

Tidur Berhimpitan, Jalan Surga Santri Cilik Ketika Menghafal Alquran

Para santri tetap ceria meski tidur berhimpitan di Ponpes  Al-Azizi Kabupaten Tebo, Jambi. - Image

Para santri tetap ceria meski tidur berhimpitan di Ponpes Al-Azizi Kabupaten Tebo, Jambi.

JawaPos.com - Berdiri sejak tahun 2012 lalu, Pondok Pesantren Al-Azizi banyak melahirkan hafiz quran. Tak sedikit, Ponpes yang dipimpin Ustadz Abdul Azizi melahirkan santri berprestasi, yang bisa merebut juara pada MTQ tingakat Kabupten dan Provinsi.


Meskipun kaya akan prestasi, namun kondisi Ponpes yang berada di Desa Mangun Jayo Seberang, Kecamatan Tebo Tengah, Kabupten Tebo ini masih jauh dari kata memadai.


Munasdi Ahmad


Memang Ponpes tersebut dibangun dari dana pribadi Ustadz Abdul Aziz dan swadaya masyarakat. Awalnya Ponpes itu hanya memiliki 5 santri.


Saat ini, Ponpes hafiz quran itu hanya mempunyai 6 ruangan ukuran 5x5 untuk asrama santri dan satriwati. Total santrinya ada 200. Untuk tidur dan istrihat, para santri harus berhimpitan. Satu ruangan diisi dengan 30-40 santri. Tempat santri belajar masih bangunan semi permanen yang tidak memiliki dinding.


Walaupun tidur berhimpitan, tapi para santri tetap semangat untuk belajar. Bahkan kondisi tersebut membuat mereka senang, karena bisa bercanda gurau dengan sesame.


Kondisi yang serba kekurangan lantas tidak membuat pesona Ponpes Al-Azizy berkurang. Ponpes Alzizy masih tetap dipercaya oleh banyak orang tua untuk menjadi tempat mendidik anak-anak mereka. Bahkan menurut Ustadz Abdul Aziz, pada tahun ajaran baru kemarin banyak yang daftar namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, sehingga banyak yang tidak jadi mondok.


“Yang daftar kemarin banyak, tapi banyak juga yang ke luar karena kondisi yang tidak memadai,” ujar ustadz seperti dikutip Jambi Ekspres  (Jawa Pos Group), Minggu (27/8).


Tidak hanya berasal dari Kabupaten Tebo saja, namun santri di Ponpes Al-Azizy juga banyak berasal dari kabupaten tetangga, seperti Bungo, Batanghari dan lainnya.


“Sebelumnya juga pernah ada santri dari Sumatra Barat dan Medan. Saat ini banyak santri sudah hafal 10 jus, bahkan ada yang hafal 15 jus untuk santri tingkat tiga,” imbuhnya.


Untuk biaya pemondokan, sebut Aziz, pihakanya hanya memungut uang SPP senilai Rp400 ribu per bulan untuk satu santri. Uang tersebut termasuk untuk makan santri.


Sementara untuk anak yatim, kata Aziz, hanya diwajibkan mambayar setengah dari santri biasa. “Bagi yatim piatu, tidak dipungut biaya. Gratis,” imbuhnya.


Ustadz Aziz menjelaskan, setiap hari santri belajar menghafal alquran, mulai dari pukul 08.00 wib hingga pukul 12.00 wib siang. Sorenya mulai pukul 14.00 wib pendidikan umum hingga pukul 17.00 wib. Malamnya dilanjutkan menghafal alquran.


“Kita tetap memberikan pendidikan umum pada siang hingga sore. Pagi dan malam kita khususkan untuk menghafal alquran,” sebutnya.


Ustadz Aziz mengungkapakan, pihaknya sering mengirimkan proposal untuk meminta bantuan ke Kementrian Agama, namun hingga saat ini belum ada bantuan sampai ke Ponpes Al-Azizy.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore