Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 September 2017 | 17.39 WIB

Belajar Filosofi Kehidupan dari Biografi Tjoa Teng Hui

JEJAK KEHIDUPAN: Alberthiene Endah (tengah) menyerahkan replika buku Kunci Kebahagiaan kepada Tjoa Teng Hui (kiri) dan disaksikan Dirut Penerbit Gramedia Wandi S. Brata (kanan). - Image

JEJAK KEHIDUPAN: Alberthiene Endah (tengah) menyerahkan replika buku Kunci Kebahagiaan kepada Tjoa Teng Hui (kiri) dan disaksikan Dirut Penerbit Gramedia Wandi S. Brata (kanan).

Kebahagiaan itu sejatinya sederhana. Terutama saat kita bisa menemukan batas tipis antara keinginan dan nafsu. Kunci-kunci kebahagiaan ala Tjoa Teng Hui itulah yang dibungkus apik oleh penulis kenamaan Alberthiene Endah.


Asa Wisesa Betari, Surabaya


”KEBAHAGIAAN sesungguhnya tak pernah berlari. Ia ada di dalam hati orang-orang yang peka dan bisa melihatnya. Kita hanya butuh kunci yang sederhana.”


Kalimat tersebut menjadi prolog yang membuat orang tergugah untuk mencari kunci sederhana yang dimaksud. Ya, Tjoa Teng Hui memang memiliki kunci yang diinginkan semua orang itu. Kunci tersebut terletak jauh di dalam dasar jiwa.


”Seseorang bisa bahagia jika keinginannya terwujud. Lantas, tinggal seberapa besar keinginan tersebut. Apalagi yang namanya manusia pasti tak akan puas,” papar Teng Hui yang ditemui sebelum peluncuran buku Kunci Kebahagiaan di Shangri-La Hotel Surabaya Senin malam (11/9).


Peluncuran buku itu dihelat bersamaan dengan perayaan ulang tahun ke-28 pernikahan Teng Hui dengan istrinya, Ko Ching. Teng Hui dikenal sebagai salah seorang pengusaha yang mengawali bisnis di Surabaya. Usahanya merambah bidang elektronik, properti, hingga perminyakan.


Sejumlah tokoh turut hadir dalam makan malam yang dikemas secara hangat itu. Di antaranya, Kepala Unit Kerja Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif, ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri, Direktur Utama PT Gramedia Pustaka Utama Suwandi S. Brata, Ketua Yayasan Masjid Cheng Hoo Bambang Sujanto, dan CEO Nyata (Jawa Pos Group) Nany Wijaya.


Lebih dari 800 undangan yang hadir juga dihibur dengan sajian suara merdu diva tanah air Yuni Shara dan talk show ala Just Alvin bersama Alvin Adam. Malam peluncuran buku Kunci Kebahagiaan turut menampilkan kehidupan Teng Hui yang dikisahkan melalui lukisan pasir.


Siapa Teng Hui? Dia lahir di Samarinda pada 16 November 1959. Ayahnya merupakan pengusaha dari Tiongkok yang datang pada era ’30-an. Di Tiongkok, ayahnya memiliki tiga anak dari pernikahan sebelumnya. Tiga anak tersebut ikut diboyong ke Samarinda.


Kemudian, sang ayah menikah dengan seorang gadis Samarinda dan memiliki lima anak. Teng Hui adalah putra keempat. Jadi, total, ayahnya membesarkan delapan anak.


Sang ayah membangun bisnis onderdil sepeda dan kendaraan bermotor dari nol di Samarinda. Ketekunan dan kerja keras membuat keluarga Teng Hui diselimuti kebahagiaan, makan dan hidup berkecukupan.


Usaha ayahnya amat maju sehingga menjadi keluarga terpandang. Itu adalah masa kehidupan awal yang sempurna bagi Teng Hui. Namun, masa-masa itu dengan cepat berbalik. Ayahnya wafat karena sakit ketika Teng Hui masih berusia 3,5 tahun. Dari seorang ibu rumah tangga, sang ibu dipaksa untuk meneruskan bisnis ayahnya. Kakak-kakak Teng Hui pun kala itu belum cukup dewasa untuk mampu menangani bisnis.


Lambat laun, bisnis tersebut redup hingga hancur dan keluarga berada pada titik nol. Cahaya yang terang benderang itu hilang tak tersisa. Yang tersisa adalah kemiskinan. Awan penderitaan tumbuh menyelimuti kehidupan keluarga tersebut. Sang ibu tak berdaya dan tidak ada yang patut dipersalahkan.


Kemudian, kakak tertua Teng Hui hijrah ke Tiongkok untuk memperjuangkan masa depannya. Sementara itu, Teng Hui berjuang dengan membuka lapak tambal ban. Dia menggunakan modal peralatan dari bekas toko ayahnya.


Penderitaan itu masih ditambah dengan rasa tertekan akibat ejekan yang diterima dari anak-anak sebayanya. Perasaan sedih terus membubung lantaran dia tidak bisa sekolah karena kendala biaya. Seorang kerabat yang merasa iba lalu bersedia menyekolahkannya di usia 10 tahun. Jadi, Teng Hui baru merasakan SD dengan sangat terlambat. Dia juga baru lulus SMA pada usia 22 tahun.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore