Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 November 2017 | 21.28 WIB

Demi Penelitian, Evi Pernah Salat hingga Ikut Sekolah Minggu di Gereja

TOTALITAS: Evi Sutrisno dokumentasikan pergulatan sejarah umat Khonghucu. - Image

TOTALITAS: Evi Sutrisno dokumentasikan pergulatan sejarah umat Khonghucu.

Agama Khonghucu telah melewati sejarah panjang hingga diakui sebagai agama keenam di Indonesia. Evi Sutrisno menelusuri liku-liku umat Khonghucu yang masih bertahan sejak zaman kolonial hingga kini.


SALMAN MUHIDDIN, Surabaya


”HEI, kamu kok jadi segini?” tegur Evi Sutrisno setelah menepuk pundak seorang remaja laki-laki yang berdiri di dekat pintu masuk Kelenteng Boen Bio, Minggu (29/10). Tujuh tahun lalu, remaja itu masih bocah. Masih duduk di bangku SD. Kini tingginya sudah jauh melampaui Evi. Perempuan tersebut harus mendongakkan kepala saat menyapa remaja itu.


Setelah itu, datang rombongan remaja lain. Kali ini semuanya perempuan. Mereka juga banyak berubah. Dari anak-anak polos menjadi mahasiswi yang sudah bisa bersolek. ”Yang ini sudah cece-cece. Cantik semua. Aduh, kalian banyak berubah ya,” celetuk Evi, lalu memeluk mereka satu per satu.


Evi begitu girang. Kerinduan akan Boen Bio selama enam tahun terbayar sudah. Selama ini waktunya banyak dihabiskan untuk menuntaskan disertasi di Jurusan Antropologi University of Washington, Seattle, Amerika Serikat.


Kelenteng Boen Bio saat itu sedang ramai. Umat Khonghucu memperingati hari lahir (harlah) Ke-2.568 Nabi Kongzi. Evi tidak bisa melewatkan hari besar tersebut. Saat itulah, dia punya kesempatan untuk bertemu teman-teman lama. Sekaligus, melengkapi dokumentasi untuk disertasinya yang bakal disampaikan tahun depan.


Perempuan keturunan Tionghoa-Jawa itu begitu lincah mendokumentasikan seluruh ritual dengan kamera DSLR yang menggantung di lehernya. Mulai atraksi barongsai, wushu, lagu rohani, dan khotbah agama. Seluruh prosesi dia ikuti hingga tuntas.


Acara selesai pukul 13.00. Setelah menyantap nasi bihun dan capcay, Evi duduk di kursi kecil di ujung kelenteng. Mengistirahatkan kaki yang sejak tadi tegang berdiri. Di atas Evi ada foto Gus Dur atau Abdurrahman Wahid. Tokoh Nahdlatul Ulama sekaligus mantan presiden Indonesia yang sangat berjasa atas pengakuan agama Khonghucu di Indonesia.


Saat masih menjabat presiden, Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 6 Tahun 2000. Isinya mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 yang dikeluarkan mantan Presiden Soeharto.


Saat itu, pemerintahan Orde Baru melakukan berbagai usaha untuk memutuskan hubungan etnis Tionghoa dengan leluhur mereka. Wujudnya adalah larangan penerbitan dengan bahasa dan aksara Tionghoa, membatasi kegiatan keagamaan, tidak mengizinkan pergelaran perayaan hari besar Tionghoa di muka umum, melarang sekolah-sekolah Tionghoa dan menganjurkan anak-anak Tionghoa masuk ke sekolah negeri. ’’Nama Tionghoa juga harus diganti,” jelas perempuan asal Cepu, Blora, itu.


Nama ayah Evi, Ng Boe Siang, diganti menjadi Budi Sutrisno. Evi lahir tidak lama setelah inpres tersebut dikeluarkan. Karena itu, dia tidak memiliki nama Tionghoa. Ayahnya langsung menamainya Evi Sutrisno.


Saat masih kelas I SD, Evi beberapa kali diajak temannya yang juga etnis Tionghoa untuk pergi ke gereja atau pergi ke Sekolah Minggu. Dia mau saja dan sangat menikmati pergi ke gereja. Teman dekat Evi lainnya berasal dari keluarga muslim taat, asli Jawa. Suatu sore, temannya diminta orang tuanya berhenti bermain untuk menunaikan salat Asar. Evi mengikuti temannya. Mulai membasuh sebagian tubuh dengan berwudu, memakai pakaian serbaputih atau mukena, lalu memulai salat. Evi menirukan gerakan salat itu.


Setelah salat, temanya bertanya. Bagaimana cara Evi beribadah? Dia kebingungan menjawab. Temannya kembali bertanya, apa agama Evi? Evi tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan itu akan dia tanyakan kepada ayahnya begitu sampai di rumah.


Di sekolah, gurunya selalu bilang bahwa setiap orang memiliki agama. Ada lima agama yang diakui. Ritual yang dilakukan keluarganya selama ini tidak masuk dalam lima agama tersebut. Setiap April, saudara-saudaranya pulang kampung untuk mengunjungi makam kakek dan neneknya di Cepu. Mereka menyalakan hio dan berdoa. Dia juga sering ke kelenteng bersama ayahnya. Tapi, dia belum tahu apa agamanya.


Sepulang salat bersama temannya, Evi langsung bertanya mengenai agama kepada ayahnya. Alih-alih langsung menjawab pertanyaan Evi, ayahnya hanya menunjukkan kitab tebal hijau berbahasa Mandarin yang sama sekali tidak bisa dia baca.

Editor: Administrator
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore