
Photo
JawaPos.com - Memperingati momen kemerdekaan RI tahun ini, Titimangsa bekerja sama dengan Direktorat Perfilman dan Media Baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menghadirkan tokoh yang 'terlupakan' atau mereka yang berada di tepian sejarah.
Mereka adalah Sjafruddin Prawiranegara, Ismail Marzuki, Emiria Soenassa, Gombloh, dan Kassian Cephas. Kisah dari tokoh-tokoh ini diangkat dalam bentuk serial monolog diulas dengan pendekatan kemanusiaan sebagai bahan diskursus untuk melihat kembali peran dan kontribusi mereka.
Monolog dari sejumlah tokoh ini akan ditayangkan di Indonesiana TV dan YouTube Budaya Saya mulai 17 Agustus mendatang. Happy Salma, produser pementasan monolog di Tepi Sejarah mengungkapkan, penting sekali tokoh-tokoh ini untuk diperkenalkan ulang ke publik khususnya anak anak muda.
"Misalnya Sjafruddin. Dia sosok kontroversial. Di satu sisi diangkat penyelamat negara, tapi di sisi lain dia dianggap pengkhinat," kata Happy Salma di bilangan Blok M Jakarta Selatan Senin (15/8).
Sjafruddin bisa dibilang Presiden ke-2 RI setelah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta ditangkap dalam Agresi Militer II dan diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka. Namun sayangnya sejarah seakan tak mengakuinya sebagai presiden.
"Kita angkat apa yang disebut moral politik. Dia kemudian pengembalikan kekuasaan kepada Soekarno hHatta. Sedang berkuasa dia sebenarnya bisa saja tidak mengembalikan kekuasaan tapi dia mengembalikannya," katanya.
Ismail Marzuki juga merupakan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan. Kendati tidak menggunakan senjata, ia memperjuangkan kemerdekaan dengan kata-kata lewat lirik-lirik lagu yang diciptakannya.
"Kenapa ada lagu dia mendayu-dayu? Itu situasinya lumayan keras, dia menyesuaikan dengan keadaan. Kalau tidak lunak bisa gagal ngasih semangat lewat lagu-lagunya," kata Lukman Sardi yang memerankan tokoh Ismail Marzuki.
Tokoh Sjafruddin diangkat dalam monolog dengan judul Kacamata Sjafruddin. Akan tayang pada 17 Agustus mendatang.
Untuk tokoh Ismail Marzuki dibuat dalam monolog berjudul Senandung di Ujung Revolosi dan akan tayang pada 25 Agustus mendatang. Ada juga Mata Kamera akan tayang pada 18 Agustus, Panggil Aku Gombloh (24 Agustus), dan Yang Tertinggal di Jakarta ( 31 Agustus).
Happy Salma mengatakan, serial monolog di Tepi Sejarah memang diniatkan untuk tayang melalui platform digital. Pertunjukan sejumlah judul tersebut sempat dibuat tapi hanya melibatkan penonton sangat terbatas.
"Dan kita tidak gunakan sistem tiket. Kita memang fokusnya untuk tayang di digital karena saat kita buat situasinya lagi pandemi," katanya.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
