Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 April 2019 | 23.41 WIB

Para Pensiunan 2049, Ketika Jenazah Koruptor Bermanfaat Jadi Abon

Arwah Doorstoot bangkit untuk mencari SKKB. (dok.Kayan Production) - Image

Arwah Doorstoot bangkit untuk mencari SKKB. (dok.Kayan Production)

Dari debu menjadi debu
Yang tiada kembali tiada
Kebahagiaan hanya sementara
Kesedihan ditinggalkannya

Tidurlah tidur mimpi yang panjang
Tidurlah tidur yang tenang
Tidurlah tidur penuh sayang
Tidurlah tidur dalam cahaya terang

Dari debu menjadi debu
Yang tiada kembali tiada
Kehidupan hanya sementara
Keheningan menjadi rumah jiwa

JawaPos.com - Hidup sebenarnya hanya menunda pensiun. Malangnya, saat ajal menjemput pensiunan Doorstoot yang dilakonkan oleh Butet Kartaredjasa dalam pementasan Para Pensiunan 2049, tidak dapat dikuburkan. Padahal, jenazah yang telah terbujur kaku tersebut adalah mantan pemimpin di negeri antahberantah.

Dikisahkan, pada 2049 di suatu negeri antahberantah terbit Undang Undang (UU) Pemberantasan Pelaku Korupsi (Pelakor) yang mengharuskan siapa pun yang mati wajib memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB) dari Komisi Pertimbangan Kematian (KPK).

Rupanya, UU Pelakor dibuat memang untuk membuat para koruptor jera. Pasalnya, tanpa SKKB siapa pun yang mati tidak bisa dikubur. Sementara, hanya orang yang tidak pernah melakukan korupsi yang berhak mendapat SKKB.

Kerkop sebagai penjaga makam menolak memakamkan jenazah Doorstoot karena ketiadaan SKKB. Para penggali kubur pun enggan memakamkannya. Segala upaya yang ditempuh keluarga pun sia-sia. Sebab, siapapun yang menguburkan jenazah tanpa SKKB juga tidak dapat dikuburkan saat meninggal nantinya.

Dengan gaya ‘guyon parikena’ atau sindiran halus, lakon Para Pensiunan 2049 berusaha menyindir gagalnya upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan di Indonesia. Sekaligus, situasi perpolitikan di tanah air pasca pemilihan umum (pemilu).

Hanya ada dua cara yang akan dilakukan pada jenazah para koruptor yang telah merugikan negara dan masyarakat, yakni dibiarkan dijalan sehingga diambil tukang sampah. Selanjutnya, dijadikan abon dan pupuk organik.

Photo

Karakter Onderdeel yang akan mengumpulkan sampah koruptor di jalan. (dok/Kayan Production)

"Koruptor kan merugikan negara dan masyarakat. Merugikan negara kan sudah dihukum. Membayar kerugian terhadap rakyat, maka jenazah koruptor harus bermanfaat. Caranya, jenazah koruptor dianggap sampah. Nantinya, dagingnya dicacah lembut, dikeringkan, dan dijadikan abon untuk pakan ternak. Supaya nggak ngeri dikasih nama abon seripah," kata Kerkop.

"Tulang dan sisanya juga dicacah, difermentasi jadi pupuk organik. Jadinya, punik jetor, pupuk organik jenazah koruptor. Sehingga, utang koruptor pada masyarakat lunas, pada negara juga lunas," imbuh Kerkop.

Mendengar penjelasan Kerkop, keluarga Doorstoot panik. Ketlin, anak perempuan Doorstoot berusaha meminta pada sang suami, Jacko untuk menggunakan kekuasaannya sebagai pemimpin negeri untuk menguburkan jenazah sang ayah.

Tak mau mengorbankan jabatannya, Jacko pun tak melakukan apa-apa. Sebab, gerak-geriknya diawasi oleh politikus oposisi, Strook. Padahal, Doorstoot yang membuatnya duduk di kursi tertinggi negeri antahberantah.

Meski pada akhirnya, Strook yang merasa risih dengan adanya UU Pelakor pun mencari cara bersama Jacko agar SKKB dibatalkan. Dengan cara, menyusun rencana menjatuhkan KPK.

Di sisi lain, dipimpin oleh Rainne Alleman, istri muda Strooke, para pensiunan yang gelisah pun mulai melakukan gerakan menolak keberadaan SKKB.

Diwarnai dengan celetukan terkait situasi politik terkini di tanah air, Para Pensiunan 2049 yang dipentaskan Teater Gandrik mampu membuat penonton menertawakan perilaku para politikus tanah air sepanjang pertunjukan.

Tetapi, malang bagi Doorstoot karena hingga akhir pementasan, Jenazahnya tak juga dikuburkan. Walau, arwahnya bangkit dan mendatangi keluarga dan para pihak yang berkepentingan.

Menampilkan Butet Kartaredjasa, Susilo Nugroho, Jujuk Prabowo, Rulyani Isfihana, Sepnu Heryanto, Gunawan Maryanto, Citra Pratiwi, Feri Ludiyanto, Jamiatut Tarwiyah, Nunung Deni Puspitasari, Kusen Ali, M. Yusuf ‘Peci Miring’, M. Arif ‘Broto’ Wijayanto, Muhamad Ramdan, dan Akhmad Yusuf Pratama, Para Pensiunan 2049, 2 kali dipentaskan di Jakarta, yakni pada 25 dan 26 April 2019, di Ciputra Artpreneur Theater.

Photo

Editor: Novianti Setuningsih
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore