
Ririn Ekawati menjadi salah satu pembicara talk show di puncak acara ASEAN Dengue Day 2026. (istimewa)
JawaPos.com - Artis Ririn Ekawati membagikan pengalamannya sebagai orang tua dalam membangun kebiasaan hidup sehat di keluarga di acara puncak peringatan ASEAN Dengue Day 2026. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) dimulai sejak usia dini melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten di rumah.
Ririn Ekawati hadir bersama putrinya dalam sesi talkshow yang menjadi bagian dari rangkaian ASEAN Dengue Day 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diskusi tersebut mengangkat tema tentang peran keluarga dalam membentuk pola hidup sehat sekaligus meningkatkan kesadaran anak-anak terhadap bahaya DBD.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Enesis Group melalui merek Soffell bersama Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Jakarta. Sebelum acara puncak, penyelenggara menggelar roadshow edukasi di sejumlah sekolah dasar di Jakarta, yakni SDN 03 dan 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, serta SDN 02 Mampang Prapatan.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan edukasi mengenai Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta berbagai langkah perlindungan diri dari gigitan nyamuk.
Mengusung tema "Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN", program ini bertujuan menanamkan budaya pencegahan DBD sejak usia sekolah melalui pendekatan edukatif yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua.
Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI yang diwakili Dr. Agus Handito mengatakan, DBD masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025, tercatat sekitar 161 ribu kasus dengue dengan lebih dari 600 kematian. Sementara hingga pertengahan 2026, dilaporkan sekitar 50 ribu kasus dengan lebih dari 100 kematian.
Ia menjelaskan, kelompok usia 15–44 tahun masih menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak, sedangkan angka kematian akibat DBD paling tinggi terjadi pada anak usia 5–14 tahun. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat edukasi pencegahan sejak usia dini.
"Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan. Pendekatan kolaboratif berbasis bukti harus menjadi landasan dalam setiap implementasi program menuju target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030," ujar Dr. Agus Handito.
Menurutnya, sekolah memiliki posisi strategis dalam membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat melalui Gerakan PSN 3M+, sehingga kebiasaan tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
Siaran Tunda Moto3 Inggris 2026! Ini Jadwal dan Link Live Streaming Veda Ega Pratama di Silverstone
Juara Piala Presiden 2026! 3 Pemain Persebaya Jalani Pemulihan Jelang Super League 2026/2027
