Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Juni 2026 | 20.55 WIB

Masalah Keuangan Televisi JTBC Menimbulkan Kekhawatiran Bagi Industri Drama Korea

Poster drakor yang diproduksi oleh JTBC. (JTBC)

 

 
 
JawaPos.com - Bagi para pecinta drakor (drama Korea), JTBC bukanlah nama yang asing untuk didengar. 
 
JTBC yang pernah dipuji sebagai stasiun penyiaran di Korea Selatan yang mentransformasi industri drama televisi Korea, telah memasuki proses rehabilitasi yang dipimpin pengadilan.
 
Kasus JTBC tersebut menimbulkan guncangan di dunia hiburan dan memunculkan kekhawatiran, tentang masa depan ekosistem produksi drakor di negara tersebut.
 
Melalui banyak drakor terkenal, JTBC dianggap sebagai pelopor drama Korea berkualitas tinggi dan kekuatan pendorong, di balik kesuksesan saluran kabel program umum di negara tersebut.
 
Awal bulan ini, JTBC menyatakan gagal bayar setelah kembali meminjam berbasis aset senilai 20,6 miliar won (sekitar Rp240 miliar) yang telah jatuh tempo. 
 
Pengamat industri mengatakan, penyebab langsungnya adalah kegagalannya untuk membiayai kembali sekuritas berbasis aset, di tengah kesulitan keuangan yang berkepanjangan.
Krisis tersebut, dengan cepat menyebar ke seluruh Grup JoongAng yang lebih luas, sebagaimana yang diberitakan Korea Times. 
 
Perusahaan media yang terdaftar di bursa saham, ContentreeJoongAng, dan operator bioskop Megabox JoongAng juga memasuki proses rehabilitasi, yang mengungkap masalah likuiditas yang lebih luas.
 
Hong Jeong Do sebagai wakil ketua JoongAng Group, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dalam konferensi pers.
 
"JoongAng Holdings dan beberapa afiliasinya telah mengajukan permohonan rehabilitasi ke pengadilan," ujar Hong Jeong Do. 
 
"Saya dengan tulus meminta maaf karena telah menimbulkan kekhawatiran dengan situasi yang kita hadapi saat ini."
 
Namun, bagi banyak orang di industri ini, masalahnya melampaui restrukturisasi keuangan. 
 
Lalu yang menjadi pertanyaan, seberapa besar pengaruh JTBC bagi industri drakor dan tenaga kerja kreatifnya?
 
Dimulai pada pertengahan tahun 2010, JTBC mengubah lanskap pertelevisian Korea dengan serangkaian drama, yang mendapat pujian kritis dan sukses secara komersial, termasuk 'Secret Affair,' 'The Lady in Dignity,' 'SKY Castle,' 'Itaewon Class,' 'The World of the Married,' hingga 'Reborn Rich.'
 
Televisi tersebut mendapat pujian karena menentang dominasi stasiun televisi terestrial, dengan berinvestasi secara agresif dalam produksi berkualitas tinggi dan mengeksplorasi, penceritaan drakor yang lebih beragam dan mutakhir.
 
Namun, lanskap media secara perlahan telah berubah secara dramatis dalam hitungan tahun.
 
Seiring dengan ekspansi platform streaming global seperti Netflix di Korea Selatan, membuat stasiun televisi tradisional semakin kesulitan untuk bersaing. 
 
Di masa lalu, biaya produksi sebagian besar dapat dipulihkan melalui iklan televisi dan siaran terjadwal. 
 
Namun saat ini, penonton telah mengalihkan kebiasaan menonton mereka ke layanan streaming, sementara pasar iklan televisi tradisional terus menyusut.
 
Pada saat yang sama, biaya produksi telah melonjak. Honorarium untuk aktor dan penulis papan atas telah meningkat tajam, sementara biaya untuk peralatan pembuatan film, efek visual yang dihasilkan komputer, dan set berskala besar semuanya meningkat. 
 
Drakor beranggaran besar yang menelan biaya beberapa ratus miliar won, bukanlah hal yang aneh untuk saat ini. 
 
Sementara itu, lembaga penyiaran domestik tetap sangat bergantung pada pendapatan iklan dan lisensi konten, sehingga mereka berada pada posisi yang kurang menguntungkan secara struktural, dalam persaingan yang semakin sengit memperebutkan anggaran produksi.
 
Masalah keuangan JTBC menarik perhatian khusus, karena peran sentral stasiun televisi tersebut dalam ekosistem produksi drakor.
 
Saat ini, stasiun televisi tersebut telah berfungsi lebih dari sekedar penyiar. Ini adalah investor utama dan mitra komisioning bagi banyak perusahaan produksi, penulis, sutradara, dan aktor. 
 
Perusahaan produksi yang berafiliasi dengan JTBC dan ContentreeJoongAng menyumbang sebagian besar produksi drakor.
 
Stasiun televisi telah mengurangi jumlah drakor orisinal yang mereka pesan, karena pendapatan iklan melemah dan biaya produksi terus meningkat. 
 
Jika kapasitas investasi JTBC menyusut lebih lanjut, lebih banyak proyek dapat menghadapi pengurangan skala produksi, penundaan, hingga batal tayang.
 
Sebuah perusahaan tanpa kemitraan dengan stasiun penyiar besar atau platform streaming global, mungkin akan semakin kesulitan mendapatkan pendanaan. 
 
Dengan industri yang sudah berada di bawah tekanan keuangan, ketidakstabilan penyiar dapat semakin memperburuk kondisi di seluruh sektor.
 
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore