Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Maret 2020 | 02.01 WIB

Berbagai Cara Merawat Spirit Rock di Surabaya

KONSISTEN DENGAN ROCK KLASIK: Band The Shadow saat tampil Surabaya tadi malam (7/3). Mereka termasu yang turut merawat spirit rock di Surabaya. Sejak akhir 1960-an Surabaya dikenal sebagai basis perkembangan rock di Indonesia. (Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

KONSISTEN DENGAN ROCK KLASIK: Band The Shadow saat tampil Surabaya tadi malam (7/3). Mereka termasu yang turut merawat spirit rock di Surabaya. Sejak akhir 1960-an Surabaya dikenal sebagai basis perkembangan rock di Indonesia. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kalau bukan karena panggilan jiwa, dia mungkin sudah patah arang. Sebab, beberapa konser yang diadakannya berujung kerugian.

”Saat ini musik rock di Surabaya tetap hidup dan berkembang. Tapi, untuk konser besar memang sulit,” ucap CEO Brotherground Ardiansyah.

Dia sudah mengalaminya sendiri. Terutama dari segi pembiayaan, sering kali biaya produksi lebih besar daripada pemasukan. ”Kalau tidak hobi susah, Mas,” kata pria yang akrab disapa Kecenk yang juga gitaris band rock Fraud itu.

Brotherground termasuk bagian dari mereka yang tetap dengan gigih mengulurkan tangan untuk menjaga nyala spirit rock di Surabaya. Beberapa festival musik seperti Brother Ground dan Surabaya Hardcore rutin mereka gelar sejak berdiri lima tahun lalu.

Setiap pergelaran, ada sekitar 14 band yang tampil. Durasinya 7–8 jam. Waktu panjang itu diberikan agar setiap band puas menampilkan karya. Penonton, yang mayoritas kalangan pelajar dan mahasiswa, pun akan mendapat sajian komplet. Nyala api rock di Surabaya itu dirawat pula di berbagai tempat lain. Dengan beragam cara.

The Shadow melakukannya dengan ”bergerilya” dari kafe ke kafe sejak dibentuk pada 2002. Band yang digawangi Tono (basis), Royke (vokal 1), Nuke (vokal 2), Aris (drum), Mohay (gitar), dan Dana (keyboard) itu konsisten mengusung classic rock.

Tapi, jalan yang mereka lalui tak selalu mulus. Saat awal dibentuk, banyak yang menolak mereka.

Ketika ditawari, pemilik kafe umumnya mengatakan tidak membutuhkan rock klasik. ”Kala itu, pada 2000-an awal, musik yang sedang booming memang hiphop dan pop,” kenang Tono saat ditemui di sela penampilan bandnya di Makan Time’s Cafe, Surabaya (7/3).

Namun, The Shadow tak menyerah. ”Pelan-pelan banyak yang suka. Kalau dulu kami nawari, sekarang banyak yang minta,” ucapnya.

Tono mengatakan, pangsa musik rock di Surabaya selalu ada. Menurut dia, yang perlu dibangkitkan adalah wadah untuk mengeks-presikan musik rock. Karena itu, support pemerintah sangat penting untuk mewujudkannya.

Herman Sasongko, akademisi penggemar rock, dulu juga rutin membawa rock ke kampus. Pada periode 2000–2012 dia dipercaya sebagai wakil rektor sekaligus kepala departemen di Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya. ”Waktu itu bermunculan band-band rock dari kampus,” ucap profesor aerodinamika itu.

Kini, rektor Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) tersebut tetap semangat turut merawat spirit rock di Surabaya dengan perform secara kontinu di kafe-kafe. ”Meski skalanya kecil, sangat penting dijaga,” ujar Herman yang pernah jamming bareng Andromeda, Power Metal, dan The Shadow.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore