
Kantor pusat PT Pertamina (Persero)
JawaPos.com - Masyarakat beranggapan bahwa PT Pertamina (Persero) tidak memiliki progres apapun dalam lima tahun terakhir. Padahal dari rentang waktu 2014 hingga 2019 ini, mereka telah selesai membangun dua buah kilang minyak di kawasan Cilacap.
"Masih ada saja yang bilang Pertamina jalan di tempat. Dalam kurun 5 tahun ini, Pertamina tidak diam ya, Pertamina ini ada 2 project ekspansi yang kita bangun dan kita selesaikan, keduanya di Cilacap, pertama Residual Fuel Catalytic Cracking (RFCC) yg selesai tahun 2015, lalu 2016 kita bangun satu lagi yang bernama Project Langit Biru Cilacap (PLBC) dan selesai di tahun 2019, jadi sekitar 4 tahunan," terang Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Ignatius Tallulembang di Gedung Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (6/11).
Ia berkata bahwa bisnis minyak ini bukanlah hal yang mudah dan memiliki risiko yang tinggi serta pendanaan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, pembuatan kilang juga membutuhkan teknologi terkini yang nantinya dapat membantu pengoperasian kilang agar lebih maksimal.
"Kemudian pembangunan itu membutuhkan waktu yang panjang, itu butuh waktu sampai 8 tahun, mulai tahapan awal, konseptual, konstruksi dan beroperasi itu 8 tahun, jadi ga bisa cepet," tutur dia.
Pembangunan satu buah kilang saja dapat memakan biaya hingga diatas USD 1 miliar. Seperti kilang RFCC Cilacap yang memerlukan dana sekitar USD 1,1 miliar.
Lain halnya dengan PLBC Cilacap, dana yang dikeluarkan sebesar US$ 400 juta karena lahan yang digunakan berskala kecil. Meskipun kecil, kilang tersebut sangat strategis karena menghasilkan produk yang ramah lingkungan, yakni standar emisi euro IV dengan tingkat gas karbon dioksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, volatile hydro carbon yang lebih sedikit.
"Itu bagian dari komitmen Pertamina untuk memperbaiki kualitas produk-produk BBM yang dihasilkan dan itu kita realisasikan di PLBC dengan menghasilkan produk euro IV yang setara dengan pertamax," tambahnya.
Melalui kilang tersebut, tingkat impor minyak di 2019 menurun sebesar 600 ribu barel per bulan. Hal ini pun telah mensupport defisit neraca dagang pada kuartal tiga dilihat dari PDB (produk domestik bruto) yang membaik sebesar 0,12 persen.
Saat ini, demi membangun ketahanan dan kemandirian energi di Indonesia, PT Pertamina melakukan suatu percepatan untuk mencapai hal tersebut. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan upgrading, modernisasi, peningkatan kualitas serta daya saing.
Akan ada 4 kilang yang akan menjadi prioritas pembangunan. Empat proyek perluasan kilang antara lain, (Refinery Development Master Plan) (RDMP) Refinery Unit (RU) II Dumai, RDMP RU IV Cilacap, RDMP RU V Balikpapan, RDMP RU VI Balongan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
