Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Maret 2022 | 23.20 WIB

Jokowi Marah Soal Keseringan Impor, Indef Tafsirkan Maknanya

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada Januari 2022 kembali mengalami surplus sebesar US$930 juta. Surplus ini menurun dibandingkan surplus - Image

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada Januari 2022 kembali mengalami surplus sebesar US$930 juta. Surplus ini menurun dibandingkan surplus

JawaPos.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) marah kepada jajaran menterinya yang melakukan pengadaan barang melalui impor. Hal ini pun mengundang perhatian sejumlah pihak.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai bahwa terdapat pesan tersirat dari teguran Presiden Jokowi, yakni terkait dengan kekhawatirannya akan jebolnya anggaran negara.

"Pesan Pak Jokowi itu pemerintah khawatir, tingkat ketergantungan impor tinggi, harga komoditas naik luar biasa, kalau tidak mencari substitusi, anggaran tidak kuat, jebol," kata dia ketika dihubungi JawaPos.com, Minggu (27/3).

Sebab, nantinya setiap kementerian/lembaga akan menaikkan anggaran mereka masing-masing. Oleh karena itu, dia meminta agar kementerian melakukan pengadaan produk dalam negeri sebagai substitusi impor.

"Karena setiap kementerian akan meminta kenaikan anggaran. Saya yakin Pak Jokowi ada konsen itu, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," tambahnya.

Apabila tidak bisa menemukan subsitusi impor, otomatis kementerian akan melakukan impor. Alhasil perhitungan anggaran pada tahun ini semua meleset.

Padahal, Presiden Jokowi juga gencar menyampaikan untuk membeli produk dalam negeri. Namun, hasilnya impor lah yang berkuasa.

"Anggaran APBN dan BUMN itu kan ibaratnya punya pemerintah, kalau mau dibelanjakan, itu sangat fleksibel untuk membelanjakan produk dari dalam negeri. Tapi nyatanya dari kementerian atau bumn tidak diarahkan sepenuhnya untuk produk dalam negeri, tetap mengarahkan referensinya ke impor," pungkas Eko.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengungkapkan kekesalannya lantaran banyak kementerian/lembaga dan pemerintah daerah yang membeli produk impor barang-barang yang sebenarnya bisa diproduksi oleh pelaku usaha dalam negeri. Dia menyebut, sangat bodoh masih melakukan impor.

Menurut Jokowi, APBN maupun APBD hingga anggaran BUMN sebetulnya bisa memicu pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan cara membeli produk-produk dalam negeri.

“Kita diam saja, tapi konsisten beli barang yang diproduksi pabrik-pabrik, industri-industri, UKM-UKM kita, kok nggak kita lakukan. Bodoh sekali kita kalau tidak melakukan ini,” kata Jokowi saat memberikan pengarahan dalam acara Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia yang digelar di Bali, Jumat (25/3).

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore