Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Juli 2026 | 18.25 WIB

Ekonom Nilai Penerbitan Panda Bond Relevan di Tengah Dinamika Pasar Dolar

Petugas menata barang bukti berupa mata uang Dolar Amerika hasil penegahan di Kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (25/06/2026). (Hanung Hambara/Jawa Pos) - Image

Petugas menata barang bukti berupa mata uang Dolar Amerika hasil penegahan di Kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (25/06/2026). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai langkah pemerintah Indonesia untuk menerbitkan Panda Bond relevan ketika pasar dolar Amerika Serikat (AS) sedang menghadapi tekanan suku bunga tinggi, penguatan dolar, dan ketidakpastian geopolitik.

“Keuntungan utama obligasi Panda bukan sekadar memperoleh dana dalam renminbi, melainkan mengurangi ketergantungan Indonesia pada satu pasar, satu mata uang, dan satu kelompok investor,” kata Josua dikutip dari Antara, Jumat (24/7).

Ia menjelaskan, obligasi Panda juga memberi Indonesia akses langsung kepada bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, dan pengelola dana di pasar domestik Tiongkok.

Jika penerbitan ini berhasil, pemerintah dapat membentuk kurva acuan surat utang Indonesia dalam renminbi yang kelak memudahkan penerbitan berikutnya oleh pemerintah, badan usaha milik negara, maupun perusahaan Indonesia yang memiliki hubungan usaha dengan Tiongkok.

Menurut Josua, manfaat strategisnya cukup kuat karena Tiongkok merupakan tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia, mencapai USD 28,54 miliar selama Januari–Mei 2026. Bank Indonesia (BI) juga sedang memperluas transaksi renminbi terhadap rupiah dan memberikan insentif bagi transaksi mata uang lokal untuk perdagangan dan investasi.

Namun, ia mengingatkan bahwa penerbitan dalam renminbi tidak menghapus risiko nilai tukar, tetapi hanya mengalihkan sebagian risiko dari dolar AS ke renminbi.

Besarnya perdagangan Indonesia dengan Tiongkok memang mendukung pembentukan pasar renminbi, tetapi tidak otomatis menjadi lindung nilai alami bagi APBN karena sebagian besar penerimaan pemerintah tetap dalam rupiah.

“Oleh sebab itu, keuntungan diversifikasi baru benar-benar kuat apabila pemerintah memiliki pengelolaan kas renminbi, transaksi pertukaran mata uang, atau kebutuhan pembayaran dalam renminbi yang memadai,” jelas Josua.

Ia menambahkan bahwa potensi memperoleh biaya pinjaman yang lebih rendah cukup besar. Pengalaman penerbitan obligasi Dim Sum menunjukkan bahwa biaya nominal pendanaan renminbi jauh lebih rendah daripada dolar AS.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore