
Suasana di salah satu pusat perbelanjaan ritel di Jakarta. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
JawaPos.com - Ekonom Centre of Reform on Economic (Core) Indonesia menilai Kondisi pelemahan Indeks Penjualan Riil (IPR) belum dapat diartikan sebagai gangguan terhadap mayoritas aktivitas ekonomi Indonesia.
Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia baru merilis Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia yang menunjukan bahwa kinerja penjualan rill Juni 2026 diperkirakan masih berada pada zona kontraksi atau berada di level 221,6 atau terkontraksi 4,4 persen secara tahunan year on year (yoy).
Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan indikator tersebut hanya menggambarkan penjualan ritel dan belum mencerminkan keseluruhan konsumsi rumah tangga.
“IPR hanya mengukur penjualan ritel sehingga belum mencerminkan seluruh konsumsi rumah tangga, terutama sektor jasa. Selain itu, angka Juni masih berupa prakiraan,” ujar Yusuf saat kepada JawaPos.com, Sabtu (11/7).
Yusuf mengatakan, sektor jasa yang menjadi bagian penting dalam konsumsi masyarakat belum sepenuhnya tergambarkan dalam angka IPR. Meski begitu, ia menilai terdapat sejumlah sinyal yang perlu menjadi perhatian.
Salah satunya adalah penurunan tingkat keyakinan konsumen yang paling besar terjadi pada kelompok masyarakat menengah yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama konsumsi domestik.
Menurutnya, apabila kelompok tersebut mulai mengurangi belanja, perlambatan permintaan berpotensi berlanjut hingga kuartal berikutnya.
“Ada sinyal yang patut diwaspadai karena penurunan keyakinan paling besar justru terjadi pada kelompok menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi. Kalau kelompok ini mulai menahan belanja, perlambatan permintaan berpotensi berlanjut pada kuartal berikutnya,” ungkapnya.
Untuk itu, pemerintah perlu menyiapkan respons kebijakan yang sesuai dengan sumber tekanan yang terjadi. Yusuf menyebut, jika persoalan utama berasal dari pelemahan pendapatan rumah tangga, maka bantuan sosial yang tepat sasaran dan percepatan belanja pemerintah masih relevan untuk menjaga konsumsi.
“Jika masalah utamanya adalah tekanan pada pendapatan rumah tangga, bantuan sosial yang tepat sasaran dan percepatan belanja pemerintah masih relevan untuk menjaga konsumsi,” ucapnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022