
Ilustrasi petugas SPPG di Jawa Timur sedang menyiapkan menu MBG. (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com — Kebijakan pemberian insentif harian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebesar Rp 6 juta per unit dinilai belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan daerah yang memiliki prevalensi stunting tinggi.
Kondisi itu terungkap dalam laporan Center of Economics and Law Studies (Celios) berjudul "Salah Alamat Insentif Harian SPPG Rp 6 Juta?" Rabu (17/6). Kajian tersebut menunjukkan distribusi SPPG dan alokasi insentif masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara sejumlah daerah dengan tingkat stunting tinggi justru memiliki jumlah SPPG yang terbatas.
"Jawa Barat dengan prevalensi stunting sekitar 15,9 persen menerima insentif harian SPPG (untuk periode 17 Juni 2026-akhir 2026) hampir 490 kali lipat dibandingkan Papua Pegunungan yang memiliki prevalensi stunting 40,0 persen," tulis Peneliti Celios, Isnawati Hidayah, dikutip Sabtu (20/6).
Temuan lain menunjukkan provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi seperti Papua Pegunungan dengan sekitar 13 SPPG, Sulawesi Barat sekitar 177 SPPG, dan Papua Tengah sekitar 33 SPPG memiliki kapasitas layanan yang relatif kecil.
Sebaliknya, kapasitas SPPG terkonsentrasi di wilayah dengan prevalensi stunting yang lebih rendah. Jawa Barat tercatat memiliki sekitar 6.357 SPPG, Jawa Tengah sekitar 4.335 SPPG, dan Jawa Timur sekitar 4.032 SPPG.
Dalam simulasi pemberian insentif harian Rp 6 juta per unit hingga akhir tahun 2026, Celios memperkirakan Jawa Barat akan menyerap anggaran sekitar Rp 5,61 triliun. Jawa Tengah diperkirakan menerima Rp 3,82 triliun dan Jawa Timur Rp 3,56 triliun.
Sementara itu, provinsi dengan prevalensi stunting yang lebih tinggi memperoleh alokasi yang jauh lebih kecil. Papua Pegunungan diperkirakan hanya menerima sekitar Rp 11,5 miliar, Sulawesi Barat Rp 156,1 miliar, Papua Tengah Rp 29,1 miliar, dan Papua Selatan Rp 15 miliar.
Isnawati mengatakan, kondisi ini dinilai tidak selaras dengan semangat intervensi gizi di daerah dengah tingkat stunting yang tinggi. Celios merekomendasikan agar pemerintah
memfokuskan program MBG pada kelompok yang paling membutuhkan.
Langkah BGN yang saat ini baru memprioritaskan wilayah 3T dan kelompok rentan patut diapresiasi. Meski demikian, Celios menegaskan, prioritas saat ini adalah melakukan audit dan evaluasi menyeluruh serta moratorium MBG untuk memastikan penerima manfaat benar-benar tepat sasaran, terutama di wilayah dengan kerawanan gizi tinggi.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
