
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Nur Hidayah, mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukan adanya keraguan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Sebagaimana diketahui, dalam beberapa waktu terakhir nilai tukar rupiah sempat menembus angka Rp 18.000 per dollar AS, sedangkan IHSG menyentuh level 5.000 setelah sebelumnya mencapai 8.000.
Menurutnya, selama ini tekanan terhadap Indonesia selama ini kerap dikaitkan dengan berbagai faktor global, seperti ketidakpastian ekonomi dunia, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, perang dagang, konflik Timur Tengah, hingga kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Namun, faktor global tersebut juga dialami negara-negara ASEAN lain seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Karena itu, muncul pertanyaan mengapa tekanan pasar terhadap Indonesia terasa lebih besar dibandingkan negara-negara tersebut.
“Sesungguhnya, pasar sedang mengirim pesan yang lebih dalam karena pasar idak hanya menilai inflasi, tidak hanya menilai defisit, tetapi menilai kualitas institusi, konsistensi kebijakan, dan kepastian arah pembangunan," ujar Nur dalam diskusi virtual, Minggu (14/6).
Nur mengatakan bahwa pasar saat ini sedang membaca sejumlah faktor domestik yang dinilai memengaruhi persepsi terhadap Indonesia. Faktor pertama adalah keraguan pasar terhadap kemampuan Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang ditetapkan pemerintah.
Keraguan pasar timbul karena mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berasal dari konsumsi rumah tangga mulai melemah, sektor manufaktur stagnan, produktivitas rendah, serta investasi belum menghasilkan transformasi signifikan.
“Sehingga investor mempertanyakan dari mana sumber pertumbuhan 8 persen itu akan datang, kalau tidak jelas jawabannya tentu resiko Indonesia akan naik,” ujarnya.
Faktor kedua adalah ruang fiskal yang semakin sempit, pasalnya Investor tidak hanya memperhatikan besaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tetapi juga berbagai kewajiban pembiayaan yang akan datang.
Program makan bergizi gratis, pembangunan infrastruktur, subsidi energi, transisi energi, dan perlindungan sosial membutuhkan pendanaan yang besar. Di sisi lain, rasio pajak Indonesia masih berada di kisaran 10-11 persen, sementara penerimaan dari sektor komoditas mulai menurun.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Kejagung Periksa Febrie Adriansyah: Kenakan Rompi Pink dan Tangan Terborgol
Presiden Persebaya Surabaya Angkat Bicara Usai Juara, Azrul Ananda: Menuju Bintang Melalui Kesulitan
Profil Kiper Persebaya Reza Arya Pratama, Tepis 2 Penalti Persib di Final Piala Presiden 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
