Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Juni 2026 | 01.51 WIB

Program MBG Butuh Susu Banyak, BGN Akui Kewalahan Penuhi Pasokan

Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui kewalahan dalam memenuhi kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). - Image

Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui kewalahan dalam memenuhi kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui kewalahan dalam memenuhi kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Pelaksana Tugas (Plt). Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, saat ini terdapat 29.670 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi. Sementara penerima manfaat MBG mencapai 63 juta.

Dengan aturan setiap SPPG wajib memberikan susu sebanyak dua kali dalam semingu, membuat kebutuhan pasokan susu nasional meningkat tajam. Sementara, jumlah pasokan susu dalam negeri dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan tersebut.

"Sehingga untuk kebutuhan susu yang sangat besar ini kami juga agak kewalahan, rekan-rekan kami di lapangan khususnya yang di dapur apabila tidak mendapatkan susu di pasar, itu biasanya mereka mengganti dengan sumber protein lainnya," kata Gunalan saat konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Selasa (2/6).

Gunalan menjelaskan, akses transportasi yang sulit untuk mendistribusikan pasokan susu ke daerah terpencil dinilai menjadi penyebab utama sulitnya menjangkau jumlah penerima manfaat MBG. Kalaupun sampai, tidak tepat waktu.

"Sehingga inilah kadang yang menyebabkan kenapa susu pada SPPG SPPG tertentu itu sulit mereka dapatkan karena memang tidak ada di pasaran, kemudian yang kedua tadi karena besarnya jumlah penerima manfaat. Nah, inilah sebenarnya yang sering kami diskusikan bersama tim dari Kemenko Pangan, ada Perpres 115 Tahun 2025 yang mana apa yang menjadi kendala dari kegiatan kita di MBG, khususnya susu ini, itu didiskusikan," katanya.

Semantara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Makmun mengakui produksi susu nasional saat ini masih belum mencukupi kebutuhan domestik. Menurut dia, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan susu nasional.

"Produksi kita itu lebih kurang sekitar 25 persen susu dalam negeri, sisanya artinya 75 persen masih impor. Ini juga yang menjadi program kita bersama bagaimana meningkatkan jumlah populasi sapi perah di dalam negeri dan kemudian peningkatan produktivitasnya," tuturnya dalam kesempatan yang sama.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore