Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Agustus 2025 | 04.15 WIB

Transmisi BI Rate ke Suku Bunga Bank Berlangsung Bertahap, Bukan Drastis

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos) - Image

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)

JawaPos.com - Meski Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan sebanyak empat kali sepanjang 2025 hingga ke level 5 persen, penurunan tersebut belum diikuti secara sepadan oleh suku bunga kredit perbankan. Memang, transmisi kebijakan moneter ke sektor riil cenderung berjalan lambat. Karena perlu menimbang berbagai faktor struktural dan kehati-hatian perbankan dalam menjaga stabilitas keuangan.

Faktor Biaya Dana (Cost of Fund) Masih Tinggi 

Meski BI sudah menurunkan suku bunga acuan, suku bunga simpanan masyarakat, terutama deposito, tidak serta-merta ikut turun dengan cepat. Bank harus tetap menjaga daya tarik simpanan agar likuiditasnya stabil. Apalagi di tengah persaingan ketat dengan instrumen pasar uang BI maupun obligasi pemerintah. 

Artinya, bank harus menawarkan imbal hasil cukup kompetitif untuk mempertahankan dana pihak ketiga (DPK). "Jika bunga simpanan belum turun signifikan, otomatis ruang bank untuk menurunkan bunga kredit pun terbatas," kata Chief Economist Permata Bank Josua Pardede kepada Jawa Pos, Minggu (24/8). 

Perbankan juga mencermati berbagai risiko ekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri. Meskipun ekonomi nasional tumbuh di atas 5 persen, perbankan menilai risiko ke depan tetap besar. Mulai dari perang tarif Amerika Serikat (AS), gejolak geopolitik, arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang bisa memicu volatilitas rupiah. 

Dari dalam negeri, daya beli kelas menengah bawah masih lemah. Sehingga risiko kredit macet di segmen UMKM (usaha mikro, kecil, menengah) dan konsumen tetap diperhitungkan. Kondisi ini mendorong bank bersikap konservatif.

"Lebih baik menjaga margin bunga (net interest margin/NIM) dan kualitas aset daripada agresif menurunkan bunga kredit," ungkap alumnus University of Amsterdam itu.

Karakteristik Transmisi Bunga yang Historisnya Lambat 

Josua juga menyoroti bahwa secara historis transmisi suku bunga di Indonesia memang lambat. Ketika BI menaikkan suku bunga acuan pada 2022-2023, bank hanya menaikkan bunga kredit sekitar 30 basis poin (bps). Jauh lebih kecil dari kenaikan BI rate sebanyak 225 bps.

"Artinya, bank cenderung menyerap sebagian beban saat suku bunga naik. Sehingga ketika suku bunga turun, penyesuaian juga dilakukan bertahap agar keseimbangan margin tetap terjaga," jelasnya. 

Josua menyatakan, lambatnya penurunan bunga kredit perbankan saat ini bukan berarti bank tidak merespon penurunan suku bunga kebijakan BI. Melainkan, ada pertimbangan struktural. Yakni, menjaga likuiditas, mengantisipasi risiko global-domestik, serta memastikan kesehatan neraca keuangan. 

Ke depan, tekanan untuk menurunkan bunga kredit memang akan semakin besar. Seiring dorongan BI, OJK, dan pemerintah. Ditambah perlambatan pertumbuhan kredit yang makin tajam.

"Namun penurunannya kemungkinan tetap berlangsung bertahap, bukan drastis, mengikuti dinamika ekonomi dan stabilitas pasar," tandasnya. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore