
Sales marketing saat menjelaskan KPR rumah subsidi dibeli di kawasan Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (25/2/2024). PT. Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) tengah gencar membidik potensi pembiayaan rumah bersubsidi untuk generasi milenial dan pasanga
JawaPos.com–PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus menggenjot penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) tahun ini. Hingga April, kinerja intermediasi bank spesialis perumahan itu mampu tumbuh double digit. KPR subsidi masih menjadi andalan.
Direktur Utama BTN Nixon L. P. Napitupulu bakal memperluas cakupan penerima KPR subsidi. Dia mengusulkan subsidi pembiayaan perumahan hanya diberikan pada 10 tahun pertama masa cicilan saja. Sisa tenor berikutnya dapat diberlakukan suku bunga floating.
”Supaya negara nggak berat, masa subsidi dikurangi. Tadinya 20 tahun menjadi 10 tahun,” kata Nixon.
Menurut dia, mempersingkat masa subsidi dapat meringankan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Selain itu, jumlah masyarakat yang bisa menikmati KPR bersubsidi juga jadi bisa lebih banyak.
”Jadi yang menerima tadi cuma 300 ribu bisa menerima 600 ribu (debitur),” imbuh Nixon L. P. Napitupulu.
Nixon menilai, tak selamanya debitur subsidi berstatus sebagai masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Seiring berjalannya waktu, mereka pasti akan mengalami kenaikan gaji. Sehingga, subsidi seharusnya tidak lagi diberikan. Bisa dialihkan ke debitur yang memang membutuhkan.
Berdasar laporan keuangan bulanan, BTN mencatatkan pertumbuhan kredit sekitar 14,43 persen year on year (YoY) menjadi sekitar Rp 345,5 triliun hingga April. Pencapaian kinerja tersebut sesuai dengan target serta arah bisnis perseroan tahun ini. Aset emiten berkode BBTN itu juga tumbuh 11,11 persen YoY menjadi Rp 450,53 triliun.
Dana pihak ketiga (DPK) BTN juga menunjukkan kenaikan positif sebanyak 11,39 persen YoY dari Rp 321,7 triliun menjadi Rp 358,3 triliun. Alhasil, laba bersih tercatat Rp 983,8 miliar atau meningkat 5,15 persen YoY.
Nixon berkomitmen akan mulai menjaga pertumbuhan kredit di level 10-11 persen. Begitu pula, mematok DPK sebesar 8-9 persen YoY pada 2024.
”Gambarannya, ketika harga bahan baku mahal, maka jualan tidak perlu digeber,” ujar Nixon L. P. Napitupulu.
Penyaluran FLPP Lima Tahun Terakhir
-2020: Rp 11,23 triliun/109.253 unit rumah
-2021: Rp 19,57 triliun/178.728 unit rumah
-2022: Rp 25,15 triliun/226.000 unit rumah
-2023: Rp 26,32 triliun/229.000 unit rumah
-2024: kuota Rp 13,72 triliun/166.000 unit rumah

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
