JawaPos.com - Program Festival Film Bulanan (FFB) Lokus 5 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah melewati batas akhir. Film fiksi ‘Ephemera’ karya Sutradara Virya Hendriyah asal Lampung dan film dokumenter ‘Mendayung Harapan’ karya Sutradara Yusril Mahendra asal Jambi, resmi diumumkan sebagai film terpilih.
Pertumbuhan filmmaker di daerah disambut optimis oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI, Sandiaga Salahuddin Uno. Ia memberikan ucapan selamat atas terpilihnya dua film tersebut.
“Selamat kepada tim produksi film ‘Ephemera dan ‘Mendayung Harapan’, kami optimis dengan sumber daya manusia yang semakin berkembang, kita bisa mengejar ketertinggalan di subsektor film. Terus berinovasi dan berkolaborasi agar bisa menciptakan lebih banyak lapangan kerja melalui sektor ekonomi kreatif,” ujar Sandi, Sabtu (24/6).
Kemenparekraf memberikan apresiasi kepada kedua Film Terpilih Festival Film Bulanan dengan pemberian sertifikat, suvenir, kesempatan mengikuti workshop perfilman, dan menjadi nominasi di Malam Anugerah Festival Film Bulanan yang diselenggarakan pada bulan Desember.
Selain itu, sebagai bagian dari eksibisi, akan ada penayangan poster digital di sejumlah area gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan penayangan film di acara ‘Sinema Keliling’, bioskop maupun media Over The Top (OTT).
Sandi pun mengingatkan para sineas yang ada di wilayah Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan untuk mempersiapkan diri karena pendaftaran Lokus 6 akan dibuka pada 2 Juli mendatang.
Sementara itu, kurator Festival Film Bulanan, sekaligus Sutradara dan Penulis Skenario, Rahabi Mandra menjelaskan, alasan film ‘Ephemera’ dan film ‘Mendayung Harapan’ ditetapkan sebagai Film Terpilih karena para kurator sepakat bahwa dua film inilah yang paling menonjol di antara film-film lainnya.
“Pada lokus ini, kami menemukan kumpulan film-film yang levelnya berada di bawah standar yang seharusnya dan film ‘Ephemera' ini buat saya tampil menjulang sendirian, karena menggunakan sinematografi yang cukup baik. Secara visual ditampilkan dengan baik, sesuai dengan kaidahnya," kata Abi.
Sedangkan film ‘Mendayung Harapan’, Abi berpendapat sinematografi itu pada dasarnya adalah audio dan visual, film dokumenter ini sinematografinya dikerjakan dengan baik.
“Kalau melihat 5 shot pertama saja, cukup menarik. Melihat sinematografinya dikerjakan dengan baik, bahwa benar mereka mengejar sebuah profil yang inspiratif. Dokumenternya film ‘Mendayung Harapan' itu berada pada batas aman,” jelas Abi.