Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Juli 2019 | 14.13 WIB

Pedasnya Cabai Bakal Sumbang Inflasi di Semester Dua

Ilustrasi: cabai. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi: cabai. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com – Pengamat ekonomi menilai bahwa pemerintah perlu mewaspadai potensi kenaikan harga beras dan cabai pada semester II 2019 ini. Sebab seperti diketahui harga cabai menunjukkan peningkatan karena isu produksi yang terpukul musim kemarau. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah mengatakan harga cabai perlu diantisipasi lonjakannya. Sebab, harga cabai merupakan salah satu faktor penyumbang inflasi yang terbesar.

Menurut dia, pusat produksi cabai hanya terpusat di beberapa titik tertentu, sementara permintaannya cenderung tersebar di berbagai wilayah maka rentan pembusukan. "Produksinya dimana dan kebutuhannya dimana, sehingga kalau jarak distribusinya jauh maka kebusukannya juga tinggi," ujar Rusli seperti dikutip Jawa Pos, Minggu (21/7).

Terkait harga beras, Rusli mengatakan Perum Bulog tetap perlu mengantisipasi kekeringan yang kemungkinan terjadi di beberapa daerah. Dia menilai Bulog perlu berkoordinasi dengan BMKG untuk mengantisipasi kekeringan dan memutuskan apakah perlu impor atau tidak.

Meski harga cabai dan beras berpotensi melonjak, Rusli memprediksi angka inflasi 2019 tidak akan menyentuh batas 3,5 persen. Sebab, bulan Ramadan sudah terlewati sehingga tidak akan ada lonjakan permintaan yang signifikan hingga akhir tahun.

Photo

Ilustrasi pedagang beras di pasar tradisional, kalangan ekonom meminta pemerintah mencermati pergerakan harga beras yang naik dan  berpotensi menyumbang inflasi di semester II 2019.(DOK.FEDRIK TARIGAN)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi kelompok bahan pangan per Juni 2019 mencapai 4,97 persen year-to-date (ytd). Sedangkan tingkat inflasi secara umum berada di angka 2,05 pedsen (ytd).

Pada Juni 2019, komoditas bahan pangan yang memiliki andil terbesar terhadap inflasi adalah cabai merah dengan sumbangsih mencapai 0,2 persen. Sebelumnya, rapat Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) pada Rabu kemarin memutuskan bahwa musim kemarau perlu diantisipasi.

Sementara itu, pada kesempatan sebelumnya Bank Indonesia (BI) menyebut Indeks Harga Konsumen (IHK) pekan ketiga Juli naik 0,2 persen secara bulanan (month-to-month) dibanding Juni. Kenaikan tercermin dari survei pemantauan harga nasional yang dilakukan otoritas moneter itu secara berkala.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kenaikan tersebut membuat inflasi secara tahunan (year-on-year) mencapai 3,2 persen. Dengan kata lain, inflasi ini masih lebih kecil dibanding bulan lalu yakni 3,28 persen. "Ini memang lebih rendah dibanding dua bulan sebelumnya karena berkaitan dengan Ramadan dan Idul Fitri 2019, di mana biasanya harga di bulan Juli kembali normal seperti biasa," ujar Perry.

Meski demikian, beberapa komoditas disebut menjadi penyumbang inflasi. BI menyebut cabai merah yang mencatat inflasi 0,15 persen dan cabai rawit yang mengalami inflasi sebesar 0,1 persen secara bulanan.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore