Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Juni 2017 | 22.05 WIB

Inflasi Juni Lebih Terkendali

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


JawaPos.com - Pemerintah memprediksi capaian inflasi pada Juni bakal lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan, inflasi Juni diproyeksi berada di kisaran 0,4–0,5 persen (month-to-month/mtm). Prediksi tersebut berada di bawah realisasi inflasi pada Juni 2016 sebesar 0,66 persen mtm.



”Juni ini antara 0,4 dengan 0,5 (persen, Red) sehingga mungkin sedikit lebih tinggi, tapi tidak banyak juga. Artinya, masih dalam range yang kemudian baik dilihat  year on year  maupun year to date inflasi masih sesuai dengan target pemerintah,” ujarnya dalam open house di rumah dinasnya di Jakarta kemarin (26/6).



Menurut Darmin, salah satu pemicu inflasi masih disebabkan fluktuasi harga pangan yang bergejolak atau volatile food. Namun, dia menggarisbawahi bahwa secara keseluruhan rata-rata fluktuasi harga pangan pada periode Ramadan dan Lebaran tahun ini lebih terkendali. ”Artinya, tahun ini inflasi kita mungkin, juga kalau dilihat harga pangan pokok, termasuk yang terendah selama beberapa tahun terakhir ini,” tambahnya.



Di tempat yang sama, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menuturkan, terkendalinya inflasi pada bulan ini disebabkan tidak adanya lonjakan harga dari komponen administered prices, yakni tarif listrik, BBM, dan gas elpiji 3 kg.



”Kenaikan listrik sudah tiga kali. Pada bulan Juni, kenaikan lebih terkendali dan pemerintah bilang tidak ada kenaikan listrik lagi. (Harga, Red) elpiji juga sampai September,” katanya.



Kondisi itu, lanjut dia, juga didukung tren harga minyak yang masih turun saat ini. Turunnya harga minyak dunia tersebut membuat kondisi untuk menaikkan harga BBM menjadi berkurang. ”Kita bersyukur harga minyak internasional turun. Itu berarti beban pembelian impor minyak kan juga berkurang. Tekanan untuk harus menaikkan harga BBM oleh Pertamina ikut berkurang,” terangnya.



Sejalan dengan terjaganya inflasi, pemerintah optimistis kondisi ekonomi masih dalam situasi yang stabil dan terjaga. Darmin menjelaskan, saat ini penyumbang utama ekonomi RI ditopang konsumsi dalam negeri serta investasi.



Kondisi tersebut juga didukung manajemen fiskal yang mulai sehat. Menurut dia, pemerintah tidak lagi menempatkan risiko fiskal sebagai hal yang bisa memengaruhi ekonomi. ”Kalau semua faktor tersebut berjalan, ekonomi mulai lebih baik. Enggak tiba-tiba meloncat. Tapi, akan ada perbaikan terus,” katanya.



Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A. Chaves mengapresiasi pengelolaan fiskal yang baik yang dilakukan pemerintah Indonesia. Bank Dunia memuji pengelolaan kerangka fiskal Indonesia dengan menyebut ekonomi Indonesia sangat solid.



Hal itu diyakini berkontribusi dalam meningkatkan kredibilitas negara. ”Manajemen fiskal di negara ini telah meningkat secara substansial selama tahun lalu cukup jauh,” tuturnya saat ditemui di rumah dinas menteri keuangan kemarin.



Rodrigo menyatakan, pengelolaan kerangka fiskal oleh pemerintah Indonesia berdampak positif pada rating utang yang diberikan S&P. ”Menteri keuangan dan banyak pengamat lainnya menyatakan bahwa defisit anggaran akan tetap di bawah 3 persen. Mungkin tahun ini antara 2,5 sampai 2,6 persen. Jadi, (kerangka, Red) fiskal tersebut tertata dan dikelola dengan baik,” ungkapnya. (dee/c24/sof)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore