Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Maret 2022 | 22.13 WIB

Imbas Konflik Rusia-Ukraina, Industri Otomotif Global Bisa Melemah

Penjualan mobil merosot selama 2025 berjalan. Gaikindo mempertimbangkan untuk merevisi target penjualan pada 2025. (Dok/JawaPos.com) - Image

Penjualan mobil merosot selama 2025 berjalan. Gaikindo mempertimbangkan untuk merevisi target penjualan pada 2025. (Dok/JawaPos.com)

JawaPos.com - Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina akan merembet kepada permasalahan ekonomi global, terutama soal supply chain. Salah satu sektor yang akan terpengaruh adalah industri otomotif.

Asisten Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Stategic and International Studies (CSIS) Lestary J. Barany menyampaikan, dampak negatif bagi industri otomotif ini didasari oleh ketersediaan paladium yang mayoritas diekspor oleh Rusia.

"Paladium ini merupakan input yang digunakan untuk industri otomotif dan juga pembuatan chip. Jadi in the long term, supply chain untuk industri ini bisa terpengaruh," kata dia dalam webinar Menimbang Dampak Konflik Rusia-Ukraina bagi Indonesia, Rabu (2/3).

Rusia sendiri merupakan pasar besar penghasil paladium yang diketahui adalah komoditas pembersih emisi kendaraan tenaga bensin. Apabila hal ini terus berlanjut, maka diperkirakan akan ada lonjakan harga dari industri otomotif.

"Ada kemungkinan shock juga di supply chain. Rusia ini merupakan ekspor utama atau 40 persen dari ekspor paladium global itu berasal dari Rusia," jelasnya.

Dalam hal ketersediaan komoditas ini, menurutnya perlu ada alternatif lain sebagai substitusi daripada bahan tersebut. Seperti yang saat ini dilakukan oleh Jerman dan Italia yang mencari diversifikasi dan mengurangi ketergantungan terhadap Rusia.

"Di sini, Italia kembali pada batubara dan ini juga ada konsekuensi lainnya, karena kita mengingat bahwa energi dari batubara ini lebih tidak bersih dibanding dengan energi yang sebelumnya," ucap Lestary.

Dirinya juga menyampaikan, walaupun dampak secara langsung belum terasa untuk perekonomian. Namun, kondisi ini harus terus-menerus dipantau. "Karena kita masih belum tahu seberapa dan berapa lama kondisi ini terjadi dan apa yang akan dilakukan secara persisnya oleh negara-negara lain," tandasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore