Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Mei 2025 | 13.46 WIB

BI Jaga Volatilitas Rupiah, PHK Jadi Ancaman Baru Ekonomi RI

Ilustrasi gedung Bank Indonesia - Image

Ilustrasi gedung Bank Indonesia

JawaPos.com - Peningkatan tensi perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok dan sentimen di pasar domestik mendorong pelemahan aset keuangan domestik. Sejalan arus dana asing keluar (outflows), terutama di pasar saham. Situasi tersebut yang memengaruhi nilai tukar rupiah di awal 2025.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menyampaikan, sampai dengan saat ini ketidakpastian itu yang masih menjadi persoalan. Kejelasan mengenai kompromi tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump masih menjadi pertanyaan. Meskipun beberapa pembicaraan dengan Tiongkok mulai dibuka.

"Statement terakhir mengenai bahwa kesepakatan itu tidak dalam bentuk tanda tangan itu kan menimbulkan pertanyaan baru. Ditambah geopolitik India-Pakistan juga menambah persalahan," ungkap Erwin di kantornya, Rabu (7/5).

Kondisi ini tentu menimbulkan respon dari investor dengan memilih perlindungan aset yang aman (safe haven). Makanya, aliran modal asing banyak yang keluar daei negara-negara berkembang. Termasuk Indonesia. Hal tersebut mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) menyentuh level terendahnya di 5067,99 pada 9 April 2025.

Sejalan meredanya sentimen perang dagang dan permintaan dalam negeri yang menguat, IHSG rebound ke level 6.926,225. Di pasar surat berharga negara (SBN), sentimen risk-off sempat mendorong yield obligasi pemerintah 10 tahun meningkat ke level 7,20 persen. "Namun kenaikan yield cenderung tertahan oleh demand pelaku domestik yang terjaga," terangnya.

Sedangkan di pasar uang, lanjut Erwin, tekanan nilai tukar mendorong non deliverable forward (NDF) dolar AS (USD) terhadap rupiah sempat berada di atas Rp 17.100 pada 7 April 2025. Sehingga BI melakukan intervensi NDF di pasar off-shore pada hari libur. Upaya stabilisasi nilai tukar tersebut dapat menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.

"Dimana NDF USD per IDR sampai dengan 6 Mei 2025 telah menguat 2,7 persen dibandingkan 7 Apr 2025. Penguatan rupiah berlanjut sejalan optimisme negosiasi AS dengan negara mitra, sehingga secara month-to-date hingga 6 Mei 2025 kurs spot USD terhadap rupiah menguat hampir 1 persen," jelasnya.

Menurut dia, volatilitas nilai tukar bergantung pada supply and demand di market dan dipengaruhi fundamental. Termasuk, pandangan pelaku pasar tentang arah pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"(Target) pertumbuhannya berapa? Apa faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan?" bebernya. Indikator itu akan menentukan keberanian investor untuk masuk secara jangka panjang. Baik itu investasi asing langsung atau investor yang berencana menahan dananya dalam jangka waktu tertentu. Terutama investor institusional. "Bukan yang sifatnya hot money," imbuhnya.

Meskipun nampaknya dari sisi pertumbuhan ekonomi terdapat perubahan landscape akibat faktor-faktor yang menentukan. Khususnya terkait dengan adanya ketidakpastian tarif AS. Sebab, kebijakan tersebut membuat perdagangan dunia melambat karena sekat-sekat yang dipasang oleh negara-negara lain sebagai resiprokal.

"Apa yang dilakukan oleh Presiden Trump akan membuat kelancaran perdagangan dunia itu terganggu. Sehingga pasti berpengaruh ke ekspor dan impor sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi GDP. Menbuat ekonominya berputar lebih rendah," ucap Erwin.

BI memastikan akan menjaga volatilitas rupiah. Sebab, volatilitas itu soal kepastian. Fluktuasi nilai yang terlalu melebar membuat para pelaku ekonomi itu sulit untuk memprediksi nilai tukar ke depan. Apalagi kalau kegiatan ekonomi mereka erat kaitannya dengan nilai tukar, misalnya korporasi. Karena dalam kegiatan ekonominya itu harus impor. Dalam perencanaan budgeting perlu memasukkan unsur nilai tukar. Sehingga dapat menentukan berapa harga jualnya.

"Dalam situasi Indonesia masih memerlukan adanya aliran modal masuk berupa portofolio investasi ataupun investasi asing langsung, stabilitas nilai tukar menjadi komponen yang penting," tegasnya.

Dari sektor ketenagakerjaan, kata Erwin, fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) belakangan ini secara tidak langsung pengaruhi fundamental. Terutama ke pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena memengaruhi daya beli masyarakat. Yang kemhdian menyebabkan pelemahan konsumsi rumah tangga.

"Pertanyaan ekonominya korporasinya masih mampu nggak dengan penjualan di tengah situasi saat ini? Masih mampu nggak menahan beban yang ada? Kalau tidak mampu ya akan terjadi lay-off," tandasnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore