Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 Desember 2024 | 16.35 WIB

Songsong 2025, Mandiri Sekuritas: Konsumsi Rumah Tangga Pulih, Kinerja Ekspor Impor Bakal Terpengaruh Perlambatan Ekonomi Global

Ilustrasu pergerakan manusia menyambut tumbuhnya perekonomian. (Pixabay) - Image

Ilustrasu pergerakan manusia menyambut tumbuhnya perekonomian. (Pixabay)

JawaPos.com - Di tengah proyeksi stagnasi perekonomian global, Presiden Prabowo Subianto mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% dalam masa pemerintahannya ke depan.

Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu harus memiliki terobosan dan strategi yang tepat untuk mendongkrak target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang fantastis tersebut.

Asta Cita atau delapan program unggulan pemerintahannya, menjadi fokus Prabowo dalam mendongkrak perekonomian nasional. Pasalnya, dari delapan program tersebut, lima di antaranya terkait dengan isu ekonomi.

Kini, tahun 2024 akan berakhir. Lalu, bagaimana proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2025 dari sudut pandang iklim investasi dan pasar saham?

Dalam kesempatan beberapa waktu lalu, PT Mandiri Sekuritas (Mandiri Sekuritas/Perusahaan) memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang stabil pada kisaran 5,1% di tahun 2025. Pertumbuhan tersebut didukung oleh membaiknya permintaan domestik atau konsumsi rumah tangga, kinerja ekspor yang terpengaruh perlambatan ekonomi global, dan potensi tarif impor Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi untuk barang-barang dari Tiongkok dan negara-negara lain.

Chief Economist Mandiri Sekuritas, Rangga Cipta memproyeksikan konsumsi rumah tangga yang akan kembali pulih, siklus modal yang akan kembali dimulai didukung oleh investasi langsung dalam dan luar negeri akan menjadi faktor-faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia di tahun 2025.

"Sementara inflasi kami proyeksikan rata-rata 2,6% di tahun depan, naik dari 2,3% di tahun 2024 ini. Kenaikan inflasi tersebut sebagian disebabkan oleh efek pasaryang rendah dari inflasi inti yang lemah dan tarif PPN yang lebih tinggi hingga 12% di tahun 2025," kata Rangga dalam keterangannya, dikutip Senin (16/12).

"Nilai tukar Rupiah pada tahun 2025 diproyeksikan rata-rata Rp15.700 per dolar AS yang mencerminkan sedikit apresiasi dari tahun 2024. Terbatasnya ruang apresiasi Rupiah mencerminkan dolar AS yang terjaga berkat kekuatan kebijakan Trump yang ke arah inflasi, namun tetap protektif baik secara fiskal maupun perdagangan internasional," jelas Rangga.

Sementara dari sisi pasar saham, Head of Equity Market Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan, di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan domestik, pasar saham akan mengalami "The Waiting Game', menunggu kondisi lebih pasti. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan strategi bottom-up dan pada keadaan seperti ini sangat penting bagi investor untuk berfokus pada sektoral saat memasuki tahun 2025.

Adrian lantas mendorong para investor untuk berkonsentrasi pada area di mana perputaran uang akan meningkat, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pendanaan menghadapi kondisi likuiditas yang masih ketat, dan volatilitas yang besar mungkin akan terus terjadi sampai adanya kepastian yang lebih besar.

"Kami memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir tahun 2025 ada level 8.150 dengan kisaran 8.590/7.140 dengan sektor-sektor yang disukai, seperti: konsumsi, pangan, properti, telekomunikasi, transportasi, dan retail Sementara di Kuartal 2025, sektor-sektor yang disukai adalah perbankan, automotif, dan retail," tambah Adrian.

Untuk pasar obligasi Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, pihaknya percaya bahwa pasar obligasi akan memberikan positive return di tahun 2024 dan 2025 dengan dukungan beberapa katalis positif, yaitu: pertama, prospek penurunan suku bunga acuanBI Rate yang masih terbuka dengan tekanan inflasi yang relatif masih rendah dan ekspektasi su ku bungafed akan terus turun sampai dengan tahun 2025.

Kedua, tekanan supply SBN juga masih manageable karena pemerintah masih bisa menggunakan Saldo Anggaran Lebih, optimalisasi loan program, daninvestment financing, transisi ke pemerintahan baru yang mui us. Terakhir atau ketiga, valuasi masih cukup menarik jika dibandingkan dengan yield yang ditawarkan oleh negara-negara berkembang dengan rating yang sama.

"Sementara dari sisi risiko, masih akan dipengaruhi dari global yaitu hasil Pemilu di AS dan eskalasi konflik geopolitikal," ujarnya.

Kebijakan fiskal AS seperti pemangkasan pajak dan kenaikan tarif impor barang dan jasa dari luar diperkirakan dapat berdampak terhadap kenaikan inflasi serta perlambatan ekspektasi penurunan suku bunga Fed Fund Rate.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore