Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 Desember 2024 | 12.55 WIB

BI Sebut Belum Waktu yang Tepat Pangkas Suku Bunga Acuan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tiga dari kiri) bersama jajaran deputi gubernur paparkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI di Gedung Thamrin, Rabu (18/12). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos) - Image

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tiga dari kiri) bersama jajaran deputi gubernur paparkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI di Gedung Thamrin, Rabu (18/12). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)

JawaPos.com–Nilai tukar rupiah yang tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS) alias USD membuat Bank Indonesia (BI) menunda untuk memangkas suku bunga acuan. Sejalan dengan rencana kebijakan Presiden AS terpilih Donald Trump yang menyebabkan risiko peningkatan fragmentasi perdagangan dunia. Serta, proyeksi The Federal Reserve (The Fed) cenderung menunda penurunan suku bunga acuan lebih cepat tahun depan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, rencana kebijakan Trump bakal menaikkan tarif impor, komoditas, dan cakupan negara yang lebih luas. Semula yang hanya berdampak pada lima negara, Tiongkok, Kanada, Meksiko, Uni Eropa, dan Vietnam, kemungkinan akan bertambah. Yakni, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan sejumlah negara lain.

”Intinya adalah negara-negara yang mempunyai sutrus merasa perdagangan dengan Amerika (Serikat) yang tinggi. Indonesia kalau tidak salah di ranking 15, jadi ini mungkin tidak menjadi suatu sasaran sekarang,” ungkap Perry dalam paparan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI di Gedung Thamrin, Rabu (18/12).

Untuk barang dari Eropa dan Inggris berupa besi, baja, aluminium, dan kendadaan bermotor diperkirakan akan dikenakan tarif bea masuk 25 persen. Sedangkan Tiongkok yang berupa barang elektronik dan bahan kimia, kemungkinan mengalami kenaikan tarif dari 25 persen menjadi 30 persen. Untuk negara-negara sepertu Meksiko, Kanada, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam akan dikenakan tarif bea masuk 10 persen.

”Ini tentu saja akan berdampak padaperlambatan ekonomi dunia, kenaikan inflasi, karena terganggunya rantai pasok,” ujar Perry Warjiyo, lulusan Iowa State University, AS, itu.

Dampaknya terhadap kebijakan moneter AS, kata Perry, penurunan Fed funds rate (FFR) 2024 kemungkinan masih sesuai perkiraan. Namun, pada pengumuman pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 17-18 Desember kemungkinan disertai pernyataan hawkish. Dengan demikian, BI memperkirakan penurunan FFR tahun depan masih tetap dua kali dengan masing-masing 25 basis poin (bps) tapi akan mundur.

”Semula kami perkirakan masing-masing pada Maret dan Mei 2025 sebesar 25 basis poin. Itu kemudian mundur menjadi Maret dan Juni 2025,” terang Perry Warjiyo.

Stance hawkish The Fed tentu memengaruhi imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS alias US Treasury. Terutama yang bertenor dua dan 10 tahun yang lebih tinggi. Masing-masing diproyeksi mencapai 4,3 persen dan 4,7 persen di 2025.

Begitu pula nilai tukar USD yang tercermin dalam DXY index nampaknya bakal terus meningkat. Melansir investing.com, DXY index berada di level 106,95.

”Karena perubahan-perubahan ini, kami akan tetap fokus dulu menstabilkan nilai tukar rupiah. Karena ketidakpastian pasar keuangan global semakin meningkat. Bukan berarti ruang penurunan suku bunga tidak ada, itu tetap akan terbuka. Timing is not right yet,” tegas Perry.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore