Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Mei 2022 | 18.34 WIB

Bisa Debat Gara-gara Menu, Bhima Yudhistira: Padahal Sama-sama Soto

Ekonom Celios Bhima Yudhistira - Image

Ekonom Celios Bhima Yudhistira

JawaPos.com - Lebaran kali ini merupakan momentum yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Sebab, sudah dua tahun sejak pandemi Covid-19 hadir, mudik ditiadakan. Akhirnya tahun ini pemerintah memberikan izin.

Hal tersebut pun dimanfaatkan oleh masyarakat berkunjung ke sanak saudara di kampung halaman. Namun, untuk Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira telah lebih dahulu bertolak ke kampung halaman, yakni Jogjakarta, jauh-jauh hari sebelum Lebaran.

"Untuk Lebaran tahun ini saya berkumpul dengan keluarga besar di Jogja. Kebetulan kedua orang tua tahun ini pensiun dan pindah ke Jogja. Rutinitas mudik sebelum pandemi biasanya melancong dari Jakarta ke Jogja, karena sebelum pandemi sudah menetap di Jogja akhirnya ritual mudiknya berubah total," tutur dia kepada JawaPos.com.

Memiliki ayah berdarah Madura, tradisi kuliner di keluarga Bhima sedikit ekstra. Jika biasanya orang-orang menyiapkan opor ayam, ketupat, rendang, dan sambal goreng, maka di keluarga Bhima tersaji pula soto Madura.

"Budaya kuliner selama Lebaran lebih kuat dari pihak Bapak yang punya keturunan Madura. Sejak kecil hidangan Lebaran nyaris tidak pernah berubah," selorohnya.

Lucunya, pernah Bhima mengusulkan menu lain, agar lebih variatif. Namun ternyata, usulan ekonom yang kerap memberikan masukan kritis ke pemerintah tersebut, mentah-mentah ditolak pihak keluarga.

"Pernah saya usul soto Betawi, tapi selalu ditolak karena keluarga tetap ingin soto Madura. Padahal sama-sama soto kan," kelakar Bhima.

THR Pakai E-wallet

Tradisi lain yang biasanya dilakukan adalah bagi-bagi THR kepada anak-anak kecil atau anggota keluarga dan saudara yang lebih muda. Menariknya, karena sudah melekatnya teknologi digital, kini bentuk THR tidak cuma fisik berupa uang dimasukkan amplop, tapi juga transfer dompet digital (e-wallet).

"Tapi karena pandemi dua tahun ini, banyak yang minta di transfer pakai Gopay atau OVO saja. Cepat sekali ritual Lebarannya berubah," imbuhnya.

Selain bagi-bagi THR, momen lain yang ditunggu adalah sungkeman. Ini merupakan tradisi memohon maaf kepada orang yang lebih tua.

Berbeda dari THR yang kini bisa memanfaatkan kemajuan teknologi, menurutnya kegiatan sungkeman tidak afdol rasanya apabila dilakukan secara virtual, seperti saat pandemi kemarin.

"Jadi saya kangen juga sungkem langsung dengan mbah secara langsung bukan lewat video call. Ada momen yang sakral setiap acara sungkeman, serasa dosa ke orang tua satu tahun terakhir hilang," ungkap Bhima.

Dirinya sangat bersyukur kali ini pemerintah mengizinkan masyarakat untuk dapat pulang kampung. Menurut dia, ini adalah momen yang sangat berharga.

"Rasa syukur terdalam karena bisa berkumpul dengan orang tua, meskipun ada rasa penyesalan karena Lebaran tahun ini kurang afdol tanpa kehadiran nenek saya. Almarhumah meninggal dunia karena Covid-19," ujarnya.

Bagi masyarakat yang berhari raya hari ini, Bhima tak lupa mengingatkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, utamanya mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker. "Insya Allah kehadiran kita semua membawa berkah dan rezeki bagi orang-orang di sekitar selama lebaran," tutupnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore