
Petugas di salah satu ritel modern menata cabai di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Jumat (8/9/2023).
JawaPos.com – Menuju pengujung 2023, sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan harga. Mulai beras, gula, minyak goreng, bawang merah, hingga telur. Dan, yang paling disorot adalah makin "pedasnya" cabai.
Kementerian Perdagangan masih mencari jalan untuk meredam tren tahunan tersebut. Kestabilan pasokan dan harga bahan pokok terus diawasi menjelang momen Natal dan tahun baru (Nataru).
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan, langkah itu diambil untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan bapok di tengah tingginya nilai jual sejumlah komoditas domestik seperti beras dan cabai. ”Harga belum turun. Untuk cabai masih terus kami cari jalan agar bisa diatasi karena akan berpengaruh pada inflasi. Meski, memang setiap Desember seperti itu,” ujarnya saat peninjauan ke Pasar Johar Baru, Jakarta Pusat, kemarin (5/12).
Berdasar survei Bank Indonesia, indeks ekspektasi harga umum (IEH) Desember 2023 sebesar 131,2 atau lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong periode Nataru, libur akhir tahun, masa reses sekolah, serta kecenderungan konsumsi yang meningkat sesuai dengan pola musiman.
Pada November 2023, inflasi secara bulanan tercatat 0,38 persen. Sementara secara tahunan inflasi November 2023 mencapai 2,86 persen. Inflasi tersebut masih terjaga sesuai kisaran di rentang 2–4 persen.
Menurut Zulhas, sapaan karib Zulkifli Hasan, salah satu upaya menekan harga bapok seperti cabai adalah melalui subsidi ongkos kirim. Pemerintah daerah dapat menyubsidi ongkos kirim untuk pengiriman dalam jumlah besar. ”Tadi kami juga minta, kalau banyak, nanti angkutnya itu bisa disubsidi pemerintah daerah,” ungkapnya.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Isy Karim tak menampik harga cabai tengah mahal di beberapa daerah, khususnya yang tidak memiliki sentra produksi cabai. Misalnya Kalimantan Utara yang harganya mencapai Rp130.000–Rp150.000 per kg. Berbeda dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang memiliki sentra produksi cabai, kenaikannya tidak setinggi itu.
Terkait upaya mengintervensi kenaikan harga cabai di wilayah DKI Jakarta, Isy mengatakan, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional telah melakukan distribusi cabai dari daerah surplus ke defisit. ”Badan Pangan Nasional sudah distribusikan cabai. Maksudnya, didistribusikan dari sentra lain ke Jakarta,” bebernya.
Terpisah, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menuturkan, cabai merah memang menjadi biang kerok inflasi sepanjang November 2023. ”Perkembangan harga cabai merah dan cabai rawit menunjukkan tren yang terus meningkat,” ujarnya pada rakor inflasi bersama Kemendagri, Senin (4/12).
Dia memerinci, penyumbang inflasi November 2023 secara bulanan didominasi oleh komoditas yang masuk dalam kategori volatile foods. Terutama komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah. Tingkat inflasi tiga komoditas itu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2 tahun sebelumnya.
BPS mencatat, dari sisi wilayah, komoditas cabai merah dan cabai rawit juga menjadi kontributor utama pada kenaikan indeks perkembangan harga (IPH) di Pulau Sumatera dan Jawa. Di Sumatera, kata Amalia, cabai merah menjadi kontributor nomor satu pada IPH. ”Kalau di Jawa, cabai rawit yang jadi komoditas utama penyumbang IPH. Jadi, kalau di Sumatera lebih butuh cabai merah, kalau di Jawa lebih suka mengonsumsi cabai rawit,” terangnya.
Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga cabai merah pun terus meningkat. Saat ini ada 360 kabupaten/kota yang harga cabai merahnya terus meninggi. Disusul 355 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga gula pasir serta 325 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga cabai rawit (lihat grafis).
”Ada lima komoditas yang harus diperhatikan untuk minggu ini, minggu depan, dan dalam minggu berikutnya,” kata Amalia. Kelimanya adalah cabai merah, gula pasir, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras. ”Harga cabai merah dan cabai rawit belum ada tanda-tanda melandai,” imbuhnya.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengimbau pemda mewaspadai kenaikan inflasi. Sebab, selama tiga bulan terakhir, angka inflasi di daerah cenderung meningkat. ”(Peningkatan angka inflasi) terjadi variasi tiap daerah. Ada daerah-daerah yang tinggi, ada daerah yang rendah,” katanya.
Pada bagian lain, dalam kunjungannya ke Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, kemarin (5/12), Presiden Joko Widodo mampir di Pasar Danga. Jokowi menyampaikan, sejumlah harga bahan pokok di Pasar Danga tergolong bagus dibandingkan dengan harga di Pulau Jawa. Dia mencontohkan cabai yang berada di harga Rp 50.000 per kilogram. ”Di Jawa sekarang harganya Rp 80.000 sampai Rp 100.000. Di sini hanya Rp 50 ribu,” tuturnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
