
Ilustrasi Petugas membersihkan patung di depan layar monitor pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.
JawaPos.com - Laporan Ketenagakerjaan Nasional Automatic Data Processing (ADP) dan nonfarm payrolls Amerika Serikat (AS)yang meningkat menjadi sentimen positif pasar saham. Meski, kunjungan Menteri Keuangan AS Janet Yellen ke Beijing yang mengkritik kebijakan ekonomi Tiongkok merusak sentimen pasar modal. Akibatnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) rebound terbatas kemarin (10/7).
IHSG menguat tipis 14,58 poin atau 0,22 persen ke posisi 6.731,038 di akhir perdagangan. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham teraktif dengan nilai Rp 429,54 miliar. Disusul saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Analis pasar modal Hans Kwee menuturkan, laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP AS menunjukkan angka pekerjaan sektor swasta meningkat sebesar 497 ribu pada Juni 2023. Angka tersebut merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2022. Sekaligus, melebihi perkiraan konsensus Dow Jones sebesar 228 ribu dan lebih baik dari bulan sebelumnya sebanyak 267 ribu.
"Artinya, perusahaan menciptakan lebih banyak pekerjaan dari yang diharapkan," jelasnya kepada Jawa Pos.
Laporan nonfarm payrolls meningkat menjadi 209 ribu pekerjaan. Data tersebut konsisten dengan yang diinginkan bank sental AS The Federal Reserve (The Fed).
"Dengan masih panasnya tenaga kerja AS dan inflasi di atas target, maka The Fed diproyeksi akan kembali hawkish, menaikkan suku bunga bulan ini," ungkap dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.
Ketegangan antara AS dan Tiongkok turut menjadi perhatian pelaku pasar modal. Apalagi setelah kunjungan Menteri Keuangan AS Janet Yellen menjadi sentimen negatif yang berpotensi merusak sentimen pasar.
Pasalnya, Yallen mengkritik ekonomi Tiongkok atas tindakan kerasnya baru-baru ini terhadap perusahaan AS dan kontrol ekspor baru pada beberapa mineral kritis. Seperti galium dan germanium.
Tiongkok juga memblokir ekspor bahan pembuat chip utama ke AS. Pembalasan tersebut dapat mengganggu perdagangan global. Setiap kemungkinan meningkatnya ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu berpotensi merusak sentimen pasar.
"IHSG berpotensi rebound terbatas pekan ini dengan support di level 6.672 sampai 6.622 dan resistance di 6.772 hingga 6.851," tandas Hans.
Head of Research DBS Group Research Maynard Arif memprediksi IHSG akan berada di level 7.500 pada akhir 2023. Untuk semester II 2023, market cenderung positif terhadap IHSG dan Hang Seng.
"Jadi, market Indonesia dan Hong Kong sementara netral pada market-market yang lain," ungkapnya.
Untuk jangka pendek, pelaku pasar masih mewaspadai kebijakan suku bunga The Fed. Namun, di sisa paruh kedua tahun ini, ada kemungkinan kinerja pasar keuangan akan lebih positif ketika bank sentral AS itu menunjukkan sinyal untuk berhenti menaikkan suku bunga.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
