Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Juli 2023 | 17.03 WIB

IHSG Rebound Terbatas Didorong Data Tenaga Kerja AS dan Kunjungan Yellen ke Beijing

Ilustrasi Petugas membersihkan patung di depan layar monitor pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta,  beberapa waktu lalu. - Image

Ilustrasi Petugas membersihkan patung di depan layar monitor pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.

JawaPos.com - Laporan Ketenagakerjaan Nasional Automatic Data Processing (ADP) dan nonfarm payrolls Amerika Serikat (AS)yang meningkat menjadi sentimen positif pasar saham. Meski, kunjungan Menteri Keuangan AS Janet Yellen ke Beijing yang mengkritik kebijakan ekonomi Tiongkok merusak sentimen pasar modal. Akibatnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) rebound terbatas kemarin (10/7).

IHSG menguat tipis 14,58 poin atau 0,22 persen ke posisi 6.731,038 di akhir perdagangan. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham teraktif dengan nilai Rp 429,54 miliar. Disusul saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Analis pasar modal Hans Kwee menuturkan, laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP AS menunjukkan angka pekerjaan sektor swasta meningkat sebesar 497 ribu pada Juni 2023. Angka tersebut merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2022. Sekaligus, melebihi perkiraan konsensus Dow Jones sebesar 228 ribu dan lebih baik dari bulan sebelumnya sebanyak 267 ribu.

"Artinya, perusahaan menciptakan lebih banyak pekerjaan dari yang diharapkan," jelasnya kepada Jawa Pos.

Laporan nonfarm payrolls meningkat menjadi 209 ribu pekerjaan. Data tersebut konsisten dengan yang diinginkan bank sental AS The Federal Reserve (The Fed).

"Dengan masih panasnya tenaga kerja AS dan inflasi di atas target, maka The Fed diproyeksi akan kembali hawkish, menaikkan suku bunga bulan ini," ungkap dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.

Ketegangan antara AS dan Tiongkok turut menjadi perhatian pelaku pasar modal. Apalagi setelah kunjungan Menteri Keuangan AS Janet Yellen menjadi sentimen negatif yang berpotensi merusak sentimen pasar.

Pasalnya, Yallen mengkritik ekonomi Tiongkok atas tindakan kerasnya baru-baru ini terhadap perusahaan AS dan kontrol ekspor baru pada beberapa mineral kritis. Seperti galium dan germanium.

Tiongkok juga memblokir ekspor bahan pembuat chip utama ke AS. Pembalasan tersebut dapat mengganggu perdagangan global. Setiap kemungkinan meningkatnya ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu berpotensi merusak sentimen pasar.

"IHSG berpotensi rebound terbatas pekan ini dengan support di level 6.672 sampai 6.622 dan resistance di 6.772 hingga 6.851," tandas Hans.

Head of Research DBS Group Research Maynard Arif memprediksi IHSG akan berada di level 7.500 pada akhir 2023. Untuk semester II 2023, market cenderung positif terhadap IHSG dan Hang Seng.

"Jadi, market Indonesia dan Hong Kong sementara netral pada market-market yang lain," ungkapnya.

Untuk jangka pendek, pelaku pasar masih mewaspadai kebijakan suku bunga The Fed. Namun, di sisa paruh kedua tahun ini, ada kemungkinan kinerja pasar keuangan akan lebih positif ketika bank sentral AS itu menunjukkan sinyal untuk berhenti menaikkan suku bunga.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore