JawaPos.com - Kajian kebijakan pembatasan baru oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya tampaknya benar-benar bikin Tiongkok geram. Tensi hubungan dagang dan diplomatik kedua negara kembali panas.
Terbaru, Tiongkok akan mengendalikan ekspor beberapa logam yang banyak digunakan dalam industri semikonduktor yakni galium dan germanium. Kementerian Perdagangan Tiongkok mengumumkan awal pekan lalu bahwa langkah ini akan menjadi senjata baru dalam perang yang meningkat atas akses microchip berteknologi tinggi antara Beijing dan AS.
Peraturan larangan ekspor Tiongkok yang baru membatasi ekspor bahan mentah, termasuk galium nitrida (GaN) dan germanium dioksida (GeO2). Seperti sudah disinggung di atas, kedua jenis logam ini digunakan dalam industri chip dan sangat penting untuk produksi chip.
Dalam pernyataan Kementerian Perdagangan Tiongkok, perusahaan yang mengekspor 38 bahan mentah perlu mengajukan izin. Langkah ini tampaknya menargetkan industri chip dan telekomunikasi AS dan UE.
Ini mewakili tanggapan balasan terhadap sanksi Barat terhadap Tiongkok. Meski bukan yang pertama, ini dianggap penting dalam perang teknologi yang sedang berlangsung. Aturan baru berlaku mulai 1 Agustus.
Larangan ekspor Tiongkok telah diperkenalkan tak lama setelah pemerintah Belanda memberlakukan pembatasan ekspor ASML ke perusahaan Tiongkok. Yakni, ASML adalah satu-satunya perusahaan di dunia yang memproduksi mesin litograf presisi tinggi, yang digunakan dalam industri pembuatan chip.
Diketahui, pemerintah Belanda sendiri telah lama berada di bawah tekanan AS untuk tidak menjual mesin-mesin ini ke Tiongkok. Mengutip Gizchina, Sabtu (8/7), beberapa analis menganggap langkah ini penting dalam perang teknologi.
Tiongkok saat ini mengendalikan sebagian besar produksi logam langka dunia. Banyak dari mereka digunakan dalam produksi chip, pasokan telekomunikasi, dan sistem pertahanan berupa alutsista canggih.
Galium digunakan dalam memproduksi chip. Ketika digabungkan dengan elemen lain, material logam ini dapat meningkatkan kecepatan dan efisiensi transmisi di berbagai produk. Yang paling penting adalah layar ponsel, panel surya, dan bahkan komponen radar.
Dilaporkan bahwa Tiongkok adalah pemasok utama logam ini di dunia. Menurut studi Uni Eropa itu mencakup 94 persen dari galium dan 83 persen dari pasokan germanium dunia. Impor galium AS bernilai USD 225 juta pada tahun 2022, menurut data AS.
Meski demikian, menurut beberapa analis, langkah ini tidak akan merugikan Barat dalam jangka panjang. Namun bukan itu tujuan yang ingin dicapai Tiongkok.
Pemerintah Tiongkok menyadari fakta bahwa logam ini memang dapat ditemukan di negara lain. Tujuan utama mereka adalah untuk memperlambat industri chip Barat, karena mungkin perlu waktu untuk mendiversifikasi pasokan, karena larangan ekspor Tiongkok sekarang memperumit rencana mereka.
Proses ini bisa memakan waktu beberapa tahun. Sementara itu, Tiongkok berharap dapat mempercepat produksi chipnya untuk mengejar pabrikan seperti TSMC dan Samsung. Dua yang terakhir saat ini adalah satu-satunya yang mampu membuat chip mutakhir. Seperti yang kita tahu, itu sangat penting untuk industri smartphone, komputer, dan otomotif.