Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Desember 2017 | 09.10 WIB

Cerita Sukses WNI Rintis Usaha Kuliner Di Australia

Rudianto, pengusaha kuliner di Perth - Image

Rudianto, pengusaha kuliner di Perth


JawaPos.com - Perth adalah salah satu kota besar di Negeri Kanguru, Australia. Berlokasi di Australia Barat, Perth sering juga disebut sebagai kota paling terisolir di dunia. Negara bagian ini terpisah ribuan kilometer dari Sydney (3.291 km), Adelaide (2.104 km), Brisbane (3.604 km) dan Canberra (3.106 km).


Dibandingkan dengan beberapa kota besar itu, Perth justru lebih dekat ke Jakarta yakni 3.002 km dan ke Denpasar, Bali 2.584 km. Jarak yang dekat ke Denpasar itu, warga Perth lebih memilih berlibur ke Bali ketimbang harus terbang ke Sydney atau Melbourne.


Begitu pula sebaliknya, orang Indonesia juga banyak yang bermukim di Perth, kuliah dan bekerja di Perth bertahun-tahun lamanya, tetapi tetap memegang paspor Indonesia.


Satu di antara warga Indonesia yang bermukim dan bekeja di Perth adalah Rudianto. Lelaki kelahiran Sampang, Madura 16 Juni 1970 silam ini, sudah belasan tahun menetap di Perth.


Untuk menjalankan hidupnya di negeri Kangguru, Rudianto memilih menjalankan bisnis kuliner masakan khas Indonesia. Rudi akhirnya membuka Restoran Bintang Cafe di kawasan Victoria Park. Sebuah restoran yang khusus menyediakan makanan halal khas Indonesia. Mulai dari sate, nasi goreng, soto hingga rendang tersedia di tempat ini.


"Bisnis kuliner saya dimulai tahun 2005, Alhamdulillah berlangsung sampai sekarang," ujar Rudianto dikutip Jambi Ekspress (Jawa Pos Grup), Selasa (12/12).


Dia bercerita, dari pertama buka, restorannya sudah mendapat kepercayaan di hati masyarakat Indonesia di Perth. Untuk bisnisnya, secara hukum tidak ada masalah, namun utuk memanage daily aktivitas secara operational sangat berat.


"Seperti sewa tempat di daerah saya Victoria Park berkisar Rp 35 juta sampai Rp 150 juta perbulan," jelasnya.


Rudi menjelaskan, untuk gaji tukang masak saja berkisar Rp 250.000 perjam. Namun, di hari minggu atau publik holiday bisa naik menjadi Rp 500.000 per jam dan 10 persen di atas itu, uang dana pensiun karyawan juga harus dibayarkan.


"Itu sebagian kecil, belum lagi PPN, pajak negara dan pajak pribadi. Namun demikian, jangan takut berspekulasi. Setiap bisnis tentu tidak ada yang langsung besar, semua harus dirintis dari awal. Asal serius, Insya Allah akan membuahkan hasil," jelasnya.


Tidak hanya WNI yang tinggal di Perth serta traveler asal Indonesia saja yang sering ke Bintang Cafe, KJRI Perth pun selalu memesan makanan jika ada acara resmi.


"Ini baru saja mengantar pesanan KJRI, ada tamu PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) dari Indonesia," katanya.


Wilayah pemerintahannya daerahnya adalah Kota Victoria Park. Victoria Park adalah pintu gerbang timur ke distrik pusat bisnis Perth, menjadi persimpangan tiga jalan arteri timur asli yakni Albany Highway, Canning Highway, Great Eastern Highway, dan Causeway Bridge. Causeway menghubungkan Victoria Park ke kota yang terletak 3 km ke arah barat laut. Oleh karena itu, tempat ini sangat strategis sebagai tempat bisnis.


Kawasan ini sepertinya menjadi tempat kuliner khusus makanan Asia Tenggara. Selain Bintang Cafe, dalam satu komplek juga ada restoran khusus dari negara-negara tetangga Indonesia, seperti Thailand dan Malaysia.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore