
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut kakeknya. Sejak itu ia lebih banyak memilih tinggal di ladang. Dan tak mau bicara lagi.
Setelah beringin-beringin tak ada, tak terdengar lagi kicau burung-burung. Pohon-pohon pun seperti murung. Merana. Hawa langsung berubah panas. Air kali menyusut dari tahun ke tahun. Mata air musiman tak muncul lagi.
Semakin banyak yang hilang. Orang-orang makin cepat gerah dan tersulut amarah. Panas bikin orang makin tidak sabar, tidak betah dalam banyak hal. Tak ada lagi cerita mandi di genangan air kali, menangkap ikan, udang, ataupun belut.
Ama Tewo merasa kemajuan yang ditawarkan secara meyakinkan menemui akhir yang selalu tak enak. Di mana-mana orang mengeluh susah air. Harga air bersih per drum 15 ribu rupiah. Kering bikin semua meranggas. Di luar rumah panas. Dalam rumah lebih panas lagi. Rumah beratap alang-alang yang dibongkar dulu dan diganti seng ketika siang mengusir orang keluar dari rumah. Mencari pohon-pohon untuk bernaung.
***
”Apa orang yang lebih tinggi kuasa itu selalu paling benar dan harus kita ikut?”
Sekretaris desa yang mendampingi Markus seolah tak mendengar.
”Selalu lebih tinggi, lebih maju, lebih unggulkah segala yang dari luar itu?”
”Biasanya lebih teruji,” jawab sekretaris desa ketus.
”Yang kita sudah miliki sejak zaman leluhur itu belum teruji?”
Sekretaris desa menjauh.
”Untuk apa kalau sekolah tinggi-tinggi lalu tak tunjukkan satu pun yang lebih dari kita?”
Gerutu Ama Tewo bukan tanpa pasal. Di usianya yang sudah 72 tahun, Ama Tewo dan orang-orang sekampungnya memikul 15 koker anakan beringin mendaki di siang terik untuk penghijauan di bukit-bukit yang dulu penuh beringin. Ini tahun kedua. Tahun pertama cuma hitungan jari saja yang hidup dari ribuan anakan yang ditanam. Ia melihat Guru Lambert pada Markus. Guru yang dulu paling getol mendukung pemusnahan beringin-beringin. Juga Camat Andreas pada Stanis. Camat yang memerintahkan pemusnahan beringin. Ingatan terhadap Guru Lambert dan Camat Andreas serta segala kejadian lima puluh tahun silam seperti mengolok-olok dirinya.
Ia merasa dipermainkan seperti anak kecil. Dulu diperintah buat ditebang, sekarang disuruh menanam lagi. Dulu Guru Lambert, sekarang Markus cucunya sebagai pengawas proyek penghijauan. Dulu camat Andreas, sekarang Stanis anaknya; kepala dinas yang bertanggung jawab terhadap proyek penghijauan ini.
Orang besar punya anak juga orang besar. Dan sama. Seenaknya terhadap orang kecil, bahkan orang tua seperti dirinya. Upah kerja mereka selama sebulan, tahun lalu yang ditunggu-tunggu hanya terbayar seminggu. Katanya ada refocusing. Istilah yang dia sendiri tidak paham. Anggaran yang nilainya miliaran itu sampai di tangan mereka yang capek menanam hanya 30 ribu per hari.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
