”Tak semuanya harus dihargai dengan uang.”
”Saya tahu, tapi uangnya lebih berguna jika kita belikan beras.”
Di percakapan minggu itu, Nike berkoak tidak, tidak, tidak cukup keras, khawatir jatah makannya akan dikurangi.
Suaminya gusar, tahu Narti benar.
Melihat suaminya diam saja, Narti berani melanjutkan, ”Ada teman yang berminat. Ia kirim pesan. Tawarannya lebih dari cukup buat beli beras. Lumayan untuk dua bulan ke depan.” Narti berani berbicara lebih panjang kalau suaminya tidak dalam pengaruh miras cap tikus. Utang pinjol kita menumpuk. Kalimat itu tertahan di lidahnya. Dengan Abas, ia harus pintar menakar situasi, mengantisipasi jambakan atau tendangan. Narti tak suka kalau hati selembut es krim itu menjadi sekeras batu sungai.
”Nanti kita bahas lagi.”
Narti tak pernah membayangkan hari ini bertahun-tahun yang lalu, ketika Pak Presiden memulai muncul di tempat-tempat tak terduga. Keluguannya sungguh meluluhkan hati. Mustahil rasanya membayangkan kerusakan yang bisa terjadi dengan wajah polos itu. Narti lupa kata Fatimah, politisi tak ubahnya para pemburu kelamin yang selalu bermanis-manis pada calon korbannya.
Mustahil rasanya membayangkan hari ini bertahun-tahun yang lalu, saat Narti begitu memuja Pak Presiden. Sungguh perasaan mudah dimanipulasi.
Harga beras dan pakan Nike membuat Narti ranyah. Toko yang ia datangi kompak memberinya gelengan kepala untuk pertanyaan, ”Ada beras?” Apakah gara-gara aksi Pak Presiden bagi-bagi beras di depan istana empat bulan lalu? Tiba-tiba, ia bersyukur ada Oma Ija yang lihai menimbun sembako.
Menatap buku-buku di tangannya itu membuat Narti betul-betul muak. Suaminya akan kembali besok, semoga membawa serta uang belanja, bukan bantingan yang akan membuat tubuh Narti berubah ungu di tempat-tempat tersembunyi dan rumah mereka semakin rapuh di bagian-bagian tertentu.
Ia harus melakukan sesuatu. Satu yang paling mendesak adalah segera memusnahkan buku-buku di tangannya. Setidaknya, ia bisa mengenyahkan rasa malu yang mengganggu itu. Masih ada utang pinjol yang menunggu waktu untuk meledak, meski ia sadar mereka lebih berperasaan daripada teman dan kerabatnya yang perlahan memutus kontak dan menjaga jarak sejak ia sering meminjam uang. Namun, di detik ia memantik macis di tungku pembakaran di halaman belakang, Nike mulai bernyanyi jogetin aja, jogetin aja, jogetin aja sambil berkelepak lemah di sangkarnya. Ia batal membakar buku-buku itu. Ia menatap Nike, terbayang sekarung beras yang bisa ia peroleh. Ia meraih kursi plastik merah pudar hadiah salah satu penyedia jasa kartu prabayar di dekat kompor. Namun, Narti kalah sigap. Suaminya muncul dan meraih sendiri sangkar itu, membukanya dan meraih Nike dengan sayang sebelum melepaskan burung itu ke udara. (*)
*) Darmawati Majid, Penulis, menetap di Gorontalo

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
