Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Februari 2024 | 15.18 WIB

Mengganti Nama dengan Mesin Waktu

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Surya Jaya baru akan menjawab, tapi Surya Kencana menyambung, ”Matahari. Aku diberi nama Surya karena aku adalah ’matahari’, alias sosok yang sangat penting di dunia. Apa kau sosok penting?”

”Tidak,” Surya Jaya terbata. ”Orang tua saya hanya berharap saya menjadi sosok penting, mungkin…?”

Pendingin ruangan berderak; udara dingin menggigilkan Surya Jaya. Jendela tertutup gorden marun tebal, segala hal yang menempel memenuhi dinding –hingga hampir menyentuh lantai dan langit-langit– agak sulit dikenali sebelum penglihatannya terbiasa dengan keremangan: ada medali-medali dan foto-foto Surya Kencana, semua berukuran variatif dan dipasang secara tak berpola. Salah satu foto seukuran orang dewasa memperlihatkan Surya Kencana berseragam tentara, memberi hormat ke arah kamera; pigura foto itu tergeser sedikit ke samping, menampakkan celah tipis di mana laras senapan mencuat, membidik Surya Jaya hingga tungkainya gemetar.

”Sebagai Surya,” ucap Surya Kencana, ”aku agak tersinggung. Aku benci jika orang lain bernama Surya dan ia bukan sosok penting. Jadi, dengan rendah hati…” Surya Kencana menurunkan kaki dari meja dan berdiri, sepucuk pistol terselip di pinggangnya, ”aku harap kau menghilangkan Surya dari namamu.”

Urusan mengganti nama tak pernah terlintas di kepala Surya Jaya. Lagi pula, apa pentingnya nama? Nama sering kali menjadi doa omong kosong para orang tua: seorang anak bernama Muhammad tumbuh menjadi pembunuh; Ayu tumbuh menjadi gadis buruk rupa; Lanang tumbuh menjadi perempuan transgender –sudah terlalu sering nama tak menentukan identitas seseorang.

”Maaf, saya punya beberapa pertanyaan,” balas Surya Jaya. ”Pertama, bagaimana cara mengganti nama? Kedua, apa nama baru yang bagus buat saya?”

”Untuk pertanyaan kedua… mungkin Budi? Budi Jaya? Kau sudah cukup berbudi dengan bersedia mengganti nama. Dan untuk Jaya, masa bodoh, itu bukan namaku. Untuk pertanyaan pertama…” Surya Kencana mematikan cerutu ke asbak, melangkah ke belakang Surya Jaya, dan membelitkan lengan kiri ke lehernya. Lengan kemejanya lembap, meruapkan aroma keringat seperti sepatu basah; jam tangan digital melingkari pergelangan tangan kirinya. ”Kapan kau lahir?”

Terbata dan parau, Surya Jaya mengucapkan tanggal dan tahun lahirnya.

”Bagus. Kalau begitu, sehari setelah kau dilahirkan.”

Surya Kencana mengatur tanggal dan bulan dan tahun di jam tangan digitalnya, lalu menekan salah satu tombol dan mendadak cahaya putih menyilaukan memenuhi ruangan –Surya Jaya refleks memejam, tapi cahaya putih tetap menerobos kelopak mata.

Sesaat kemudian, Surya Kencana melepaskan belitan lengan kirinya di leher Surya Jaya; di balik mata tertutup terasa cahaya putih menghilang; Surya Jaya membuka mata. Mereka telah berada di kamar rumah sakit. Ibu duduk bersandar di kasur seraya menyusui bayi, ayah berdiri di sampingnya –ibu dan ayah sontak menoleh ke mereka berdua.

”Siapa kalian?” tanya ayah, waspada.

”Bayi itu Surya Jaya, betul?” kata Surya Kencana.

”Kami berencana menamainya begitu…” balas ibu.

”Sekarang,” bisik Surya Kencana pada Surya Jaya, ”bujuk mereka untuk mengganti namamu. Bicara baik-baik tentu lebih baik ketimbang menodongkan pistol.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore