
ILUSTRASI
Kata guru ngajimu dulu, Bu Rahima, manusia tercipta dari tanah, maka ia tak asing dengan apa pun yang tiba. Hanya akan merana kalau yang tiba adalah tuba. Guru asal Pangean yang mencintai anak-anak Talang Mamak itu tak segan-segan menyebut sawit, penyebab rasa sakit; buldoser, segala baja, sebagai tuba!
”Rul! Chairul?” sesuara memanggilmu di tepi sungai. Ujung tangkai pancingnya seolah menggores matahari petang yang memerah.
”Bilal!” kau mendekat. Kaulihat kembunya tak terisi setengah.
Kalian berjabat tangan. Erat. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Kalian lalu bercerita sambil jalan, seperti sungai mengalir lamban.
”Susah cari ikan. Sungai kian dangkal, rawa kering. Bukan soal kemarau atau hujan, Rul. Tapi air terisap akar sawit,” Bilal terus bicara. ”Kaulihat, perusahaan sudah sampai batas dusun. Untung kau cepat pulang.”
Kau menerawang. Kuik-kuik olang. Berpusar di langit petang.
***
Kau disambut amai yang juga baru tiba dari ladang. Ia histeris, lalu terisak-isak. Si anak hilang kembali pulang! Kenapa susah sekali kau dikontak dan kau pun tak pernah kontak kami? Lebih pelosok mana pondokmu daripada kita di sini? Amai menceracau.
Dari amai, kautahu, tiap kali nelepon, pengurus yayasan selalu bilang kau sedang belajar. Terakhir mereka bilang, aturan pondok melarang santri terhubung kampung supaya fokus. Kami putus asa, kata amai. Kau terdiam, yakin adanya permainan.
Azan Magrib di radio transistor. Kalian berbuka. Dartin hidangkan sedikit ikan pemberian Bilal. Lumayan pengobat kangen.
Dari adikmu itu kaudapat kabar bahwa Paman Umang sudah menikah dengan amai. Sekarang ia dalam perjalanan pulang dari ladang. Perasaanmu campur aduk.
”Kau pulang, Rul?” pas suap terakhir, Paman Umang datang. Ia cuci kaki di penutu. Kau tersintak. Orang yang dulu kauakrabi kini berubah sosok lain tegak di pintu.
”I-Iya,” kau kikuk, batal menambah nasi. Hatimu tak menentu.
Paman Umang duduk di sampingmu. Amai mengambilkan pinggan buatnya.
”Kau sudah tahu dari amai, atau adik-adik, kan? Begitulah. Paman harus dampingi kalian. Sejak kau pergi, paman merasa tak enak. Kautahu? Yayasan itu dibuat sendiri oleh perusahaan. Mereka incar anak-anak dusun sambil mengincar tanahnya. Jika anak-anak diungsikan, negosiasi lebih mudah.” Paman membuka modus.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
