Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 April 2023 | 22.00 WIB

Gema Takbir Bukit Tigapuluh

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Tentu, karena abahmu adalah turunan batin, kepala kaum, yang disegani. Kau pun berhak jadi batin sebagaimana kakekmu. Seharusnya juga abahmu. Tapi ia menghilang ke Pekanbaru. Dan kembali setelah terpilih batin baru; Paman Umang. Seorang lajang (sebenarnya duda) karena istri yang baru dinikahinya lari bersama mandor kebun.

Kini kausadari, abahmu memberi isyarat tugas itu untukmu. Entah kapan. Lewat caranya mengenalkan silsilah dan menceritakan leluhur, si abah yakin, kelak kau akan memanggul tugas itu. Tak serupa ia yang menolak halus; pergi sejenak dan kembali dengan memilih jadi orang belakang layar.

Lebih dari itu, ia ingin kau sekolah meski adik-adikmu, Dartin dan Calvin, serta kawan seusiamu memilih behuma, berladang. Sebagian mencari damar ke hutan. Sekolah cocok buatmu, calon batin masa depan, itu juga isyarat yang tak perlu diucapkan abah.

Ingatkah kau waktu kakekmu masih hidup? Waktu itu kau sering dititip abah untuk mengikuti kegiatan kakek sebagai batin. Menghadiri ritual begawai (pernikahan), turun tanah (kematian), dan ritual-ritual lain yang membuat jiwamu terikat pada adat.

Salah satu ritual yang kausukai adalah saat Lebaran: Menjelang Rajo. Pada hari baik bulan baik itu pak batin, pak dukun, pak balian, kumantan, penghulu, dan para katuha berkumpul. Berdoa. Bakar menyan, baca mantra. Seluruh kampung bersukaria melepas kalian pergi sebagai utusan ke istana Raja Indragiri.

Kalian bawa hadiah dan persembahan hasil bumi. Madu hutan dan madu pahit batang pelawan. Jernang, telur ikan, daging rusa dan kijang. Buah-buah ranum segar. Padi ladang yang terbaik. Dulu, kata kakek, moyang kalian menghilir Sungai Indragiri naik rakit kayu kulim. Berlabuh di tepian Masjid Sultan Salehudin. Kini kalian berangkat naik mobil.

Di istana bertiang tinggi kalian disambut Raja. Saling bermaafan. Ia tetap berwibawa meski zaman berubah. Hampir separo wilayahnya kini jadi kebun sawit. Tinggal sedikit hutan Bukit Tigapuluh tempat kaummu hidup. Itu pun digasak. Kabarnya Raja sudah bicarakan dengan banyak pihak, meski nyatanya buka lahan jalan terus.

***

Seolah tak terasa, kebun sawit meluas sampai ke tepi luak. Bahkan dusun-dusun terjauh. Tinggal dusunmu belum terjamah. Tapi kalian terkepung. Abahmu habis waktu mengurus ini-itu mengamankan hutan ulayat.

Kelelahan dan rasa putus asa membuat abahmu jatuh sakit. Dari pondok huma ia digotong pulang ke dusun. Pak Dukun yang masih kerabatmu membacai mantra. Mata abahmu mendelik. Panas. Ada isyarat ia sampaikan, seolah menunjuk garis dan batas. Tak lama, abahmu menutup mata selama-lamanya.

Kau baru masuk SMA di Molek. Nyaris sekolahmu putus. Untung Yayasan Mandiri lekas membantu. Mereka ajak kau masuk pesantren ke Jawa. Keluargamu setuju, kecuali Paman Umang. Sayang ia kerabat jauh, tak bisa campur tangan. Meski kau paling dekat dengannya. Lagi pula pihak yayasan pandai benar meyakinkan keluarga besarmu.

Sejak itulah kautinggalkan dusun. Bertahun-tahun. Tiap kali kaunyatakan kangen kampung, amai dan adik semua, pengurus yayasan selalu punya cara mencegah. Belum saatnya, kata mereka. Tak ada sinyal. Kau harus pandai. Begitu selalu, dan kau pun abai.

Ditambah Covid-19 yang menghalangi mudik –jadi alasan tangguh yayasan– tak terasa empat kali Lebaran kau tak pulang. Bang Toyib, guyon kalian di pondok.

Tapi Lebaran ini tak bisa lagi. Kau tak terbendung. Madrasahmu tamat. Kau telah minta restu guru-gurumu dengan hormat. Hanya pengurus yayasan masih gondok. Mereka habis alasan melarang kau pulang. Kau diberi tiket pesawat. Dari Pekanbaru, naik oto travel paling pagi, kau bertolak ke Air Molek. Lalu cari ojek ke pedalaman.

Begitulah kini kau berjalan. Di batas dusun, di balik gerumbul semak liar kaudengar deru. Kauhenti sejenak. Kaukuakkan semak, dan tampaklah alat-alat berat bekerja bagai menggasing tanah. Astaga! Kau ngilu serasa tubuh sendiri sedang digasing.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore