
ILUSTRASI
Langit pengujung Ramadan terlihat bersih. Awan tipis menyisih persis di pucuk meranti. Daun-daunnya mengembang serupa atap. Sesekali olang mengepak di dahan paling tinggi. Di sana rajawali yang disucikan kaummu itu membangun singgasana.
KAUTENGADAH, ingat surau kecilmu yang juga dinaungi sebatang meranti tua. Apa kabarnya bulan puasa begini? Tambah ramai atau makin sepi? Apa kabar kawan-kawanmu di surau kecil itu? Nofan, Dita, Ayu. Ketiganya pintar ngaji. Syamsudin yang lantang saat azan sehingga ia dipanggil Bilal Lantang. Atau Lian, sesekali beranikan diri jadi imam.
Kau sendiri didahulukan selangkah ditinggikan seranting. Itu kata Nofan dan Syam. Kaukira karena kau paling tua. Atau kau paling sering mengajak mereka ke surau. O, mungkin aku rajin sekolah, pikirmu lain waktu. Semua itu benar belaka.
Tapi ada yang tak langsung kaudengar. Di depan jemaah –saat kau tak ada– Wak Imam pernah bilang, pengetahuan agamamu bagus. ”Anak itu bisa memimpin,” katanya. Seolah menemukan gaharu pilihan di hutan yang terancam.
Pakde Samin bahkan membawa filosofi Jawa menanggapi Wak Imam. Transmigran yang tinggal di dusun kalian itu sadar betul sulitnya dakwah di pedalaman. ”Mudahan ia pulung bagi kampung, dan wangsit bagi sedulur,” katanya kalem.
Itulah tak heran, kau sering jadi imam bila Wak Imam sibuk di ladang. Sesekali kau diminta mengisi ceramah, bukan? Meski kau merasa malu bila ingat isi ceramahmu dulu.
Ah, kenangan itu terus menguntitmu. Sejak awal kau pergi, hingga saat kini kau kembali. Dari Air Molek kau naik ojek, dan turun di simpang. Lalu kaupilih jalan kaki, lewati jalan pintas, menghindar bertemu kenalan. Kau ingin lepas rindu dulu dengan amai.
Rasa tercium goreng ikan sungai yang gurih di kuali amai. Getas daun pucuk ubi dipiuh sambal belacan. Begitulah kalian duduk makan beralas tikar daun rumbai.
Hmm…Kau tertegun. Ingat nasib dusun. Maka kaualihkan bayangan sedap nian itu dengan berpikir semoga tak semua tempat jadi kebun. Bukankah kampungmu penyanggah Taman Nasional Bukit Tigapuluh? Tempat orang Talang Mamak, puakmu, bertahan hidup. Mustahil terjamah sawit, bukan? Kau agak lega.
Itu pula yang dulu diyakini abahmu. Sawit tak akan masuk lebih jauh ke dusun terpencil dan huma kalian. Paling hanya sampai Belilas, di jalan lintas timur Sumatera, kata abah menenok jarak. Cukup jauh, sehingga ia picingkan sebelah mata.
Ketika akhirnya sawit muncul begitu cepat di batas luak (kampung) Talang Sungai Parit, seolah bibitnya ditembakkan begitu saja dari Belilas, abahmu sedikit tercekat. Apalagi orang kampung sendiri menebang pohon karetnya dan mengganti dengan sawit.
Namun abahmu masih berbesar hati. Itu hanya sekitar luak yang memang tak bisa mengelak dari kemajuan, katanya. Karet itu juga sudah pada tua, harga tak pernah naik.
***
Abahmu masih bisa terkekeh beri harap. Meski hutan dusun kalian masih aman, sejatinya warga mulai gelisah. Tapi setidaknya, tiap kali utusan perusahaan datang bertemu abahmu, Wak Imam dan Pakde, bicarakan sistem kebun, mereka tak percaya janji lahan plasma. Omong kosong. Malah pemilik lahan sering terusir.
Abahmu menghamburkan air sirih dari mulutnya. Mulut yang sebenarnya tak suka banyak berkata-kata. Orang perusahaan pergi menahan gerun hati. Sebaliknya di mata orang dusun abahmu semacam harimau adat. Garang menolak tuba dan jerat.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
