
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Langit pada hari yang tak terlupakan itu merekah. Cahaya merah semburat dari ufuk timur, seolah darah terburai dari luka yang baru saja terbuka. Sungai di Gwangju mengalir lambat, mengendap di antara gedung-gedung dan bangunan-bangunan, berupaya mengabarkan sesuatu yang enggan disampaikan. Sementara, di jalan-jalan di pusat kota, ribuan kaki memukul aspal yang retak, satu demi satu membentuk denyut kehidupan yang akan dihancurkan oleh kekerasan.
Segala sesuatu terasa lebih lambat sekaligus berat. Bahkan, burung-burung yang biasanya berkicau di pepohonan sepanjang Geumnam-ro seakan dipaksa menahan napas. Suara yang paling lantang dan pertama kali memecah damai adalah langkah sepatu bot. Berat, teratur, dan berirama; ritmenya menyusup ke dalam dada setiap orang yang bersembunyi, bahkan di balik jendela rumah mereka yang jauh dari pusat keriuhan.
Asap dari ban-ban yang dibakar berbaur dengan debu jalanan yang menguar jalang, melukis langit dengan goresan hitam pekat dan merah yang buram. Suara-suara datang silih berganti, kadang berharmonisasi –teriakan, tangisan, jerit pukulan tongkat, dan desing peluru–mengiris udara yang dingin. Suara-suara yang terlalu sulit didengar tanpa melibatkan rasa cemas yang berlebihan, seolah bumi sedang mengisyaratkan sesuatu yang tak bisa dipahami.
Orang-orang berkemeja lusuh –karena sempat terjatuh– berlarian, beberapa menyeret tubuh mereka sendiri yang terluka oleh hunjaman peluru. Yang lainnya memanggul beban yang lebih berat: entah saudara, entah kerabat, entah anak, entah kawan seperjuangan, atau seseorang yang baru saja mereka temui tetapi sudah dianggap sebagai saudara atas kesamaan pandangan. Bau darah dan keringat bercampur menjadi aroma yang tak ingin dikenang, tetapi tak pernah bisa dilupakan.
Geumnam-ro kini tak ubahnya ruang penuh tubuh. Di permukaan aspal yang keras, barisan tubuh tak berdaya tergeletak, sebagian telah kehilangan nyawa, beberapa masih bergerak dengan menyertakan keengganan yang tak terucap. Tidak ada perbedaan yang jelas di antara mereka, kecuali sekelompok orang berseragam yang berlindung di balik senjata dan terus bergerak bersama kepongahan.
”Akhiri kediktatoran!”
”Turunkan Chun Doohwan!”
Seruan lantang itu berbalas salak senjata dan lemparan gas air mata. Kerumunan para pengunjuk rasa berlari, tanpa arah, tak tahu harus pergi ke mana. Hanya ada satu tujuan di benak masing-masing dari mereka, berlari sejauh mungkin dari gapaian para tentara yang dilindungi tangan-tangan kekuasaan. Orang-orang berlarian dengan wajah kosong, tak menyisakan ruang untuk pertanyaan –yang mungkin juga tak memiliki jawaban.
Di tengah kerumunan yang hilang bentuk, seorang pria paro baya yang mengenakan ikat kepala berwarna putih berdiri tegak, matanya kosong, menelusuri setiap sudut yang menampilkan ketiadaan. Namun, di dalam tatapannya, ada sesuatu yang lebih dari sekadar kesedihan. Seperti ia menyaksikan seluruh dunia telah runtuh dan tak lagi percaya pada apa pun; pada siapa pun.
Detik berikutnya, tongkat berkelir hitam melesat, mengucapkan salam perkenalan yang tak pernah diinginkan, tepat di keningnya. Pria itu meraba-raba keningnya, mendapati sesuatu yang hangat sekaligus lengket. Ikat kepala berwarna putih itu perlahan berangsur merah, bercampur pekat darah, seperti tinta yang tumpah di atas kertas basah. Ia ambruk, bersamaan itu tongkat kembali menggerayang, bukan hanya di kening, tetapi di seluruh tubuh ringkihnya.
Di salah satu sudut lainnya di Kota Gwangju, Junghwan melajukan taksinya dengan hati dan rahang yang mengeras. Tangannya menggenggam roda setir dengan kaku, berkendara tanpa peduli terhadap rambu-rambu. Nyala lampu merah bukanlah perintah untuk berhenti, tetapi terlihat serupa panggilan untuk terus melaju. Setiap detik yang dilalui Junghwan adalah taruhan hidup-matinya seseorang yang sedang berjuang melawan kediktatoran.
Terhitung sejak tadi pagi, Junghwan telah membawa tiga orang keluar dari Geumnam-ro: seorang pria dengan luka akibat hantaman benda tumpul di mata kaki, seorang wanita yang tak berhenti menangis sambil memegangi perutnya yang terus mengucurkan darah akibat tertembus timah panas, dan kini, seorang mahasiswa yang seragamnya tampak lusuh serta penuh bercak darah yang nyaris kering.
Di kursi belakang, mahasiswa itu bernapas pendek-pendek, memeluk sebuah buku berlatar merah. Buku itu, entah jurnal harian, atau semacam manifesto yang mungkin terlalu sulit dipahami oleh orang awam sepertinya. Junghwan enggan bertanya. Ia hanya memandangi dengan ekspresi iba mahasiswa itu melalui kaca spion depan, mengamati bagaimana bibirnya bergerak seperti sedang berdoa atau merapal harapan yang nyaris musnah.
Junghwan tidak sendiri, di jalan-jalan utama Kota Gwangju, para sopir taksi lainnya bergerak dalam kesenyapan yang terkoordinasi, layaknya arus sungai yang mengalir menuju hamparan laut. Mereka tak saling mengenali, tetapi dalam gelap yang tak berwujud, mereka saling memahami. Mereka bergerak ke satu tujuan akhir yang sama: rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Junghwan segera menurunkan penumpangnya, memapahnya menuju ruang gawat darurat. Namun, ketika ia menyaksikan sekeliling, ia tahu bahwa ruangan itu tak lagi bisa menyembuhkan apa pun. Rumah sakit penuh sesak dengan orang-orang yang tergeletak tanpa daya, wajah mereka pucat pasi, dan tubuh mereka penuh luka. Tak ada cukup ruang, tak ada cukup tangan untuk merawat.

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
Tempat Kuliner Bakmi Jawa Terenak di Jogja: Dimasak Pakai Arang, Rasanya Semakin Nendang
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Prediksi Skor Bayern Munich vs Real Madrid! Dua Raksasa Berjibaku Demi Tiket Semifinal Liga Champions, Siapa Bakal Melaju?
