Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 September 2024 | 16.28 WIB

Jagoan Tangan Buntung

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Oleh ADE MULYONO

---

Ratim meringis kesakitan memegangi lengan tangannya yang nyaris putus. Darah di sekujur tubuhnya belum sepenuhnya kering. Sambil menyemburkan ludahnya ke langit, ia meninggalkan halaman rumah sakit dengan perasaan marah bercampur kecewa setelah petugas administrasi melayangkan pertanyaan menohok: Bapak punya uang?

SEPERTI kena tonjok, Ratim hanya menggeleng kemudian melangkah pergi dengan menahan amarahnya yang berkobar di dadanya. ”Asu teles ngina wong melarat,” ujarnya dengan logat Tegal yang ngapak.

Dengan wajah putus asa, pemuda berusia 25 tahun itu menyeret tubuhnya yang penuh luka menyeberangi senja di bawah kolong langit Jakarta. Makin lama ia berjalan, rasa perih di sekujur tubuhnya makin tak karuan. Terutama bagian lengan tangan kirinya yang ketamplengan.

Ratim masih berjalan di pinggir jalan raya yang tak berujung dengan harapan akan ada seseorang yang menghampirinya untuk memberikan pertolongan. Sialnya, tidak ada satu pun orang berhati malaikat yang sudi menghampirinya untuk menanyakan keadaannya. Semua orang adalah orang lain. Ia seperti orang asing yang terasing. Jakarta telah memberikan pelajaran berharga yang tidak didapatkan di desa. Beginikah kehidupan Jakarta yang begitu asin?

Ratim hanya menggeram mencercap pedihnya tinggal di kota yang digarami rasa sakit tak terperikan. Bagaimana tidak, sedari siang tidak ada seorang pun yang menaruh belas kasihan pada dirinya, kecuali air mineral yang diberikan pedagang bakso dan sepotong roti yang dilemparkan penjaga warung Madura sebelum menyuruhnya pergi. Siapa saja yang melihat Ratim dengan kondisi yang mengenaskan seperti itu akan dibuat ngeri –minimal takut. Jika bukan orang gila, pencoleng yang habis digebuki warga. Wajahnya bonyok dan tubuhnya dipenuhi lumuran darah. Semua orang yang melihatnya memilih kabur.

Setelah berjalan cukup lama, ia berhenti di emperan toko yang rusak. Barangkali ditinggal kabur pemiliknya. Tempatnya berantakan, puing-puing bekas jilatan api berserakan. Ia mematung mengamati pemandangan ganjil yang baru dilihatnya.

”Siapa yang habis mengamuk di sini?” ujarnya lirih.

Tiba-tiba ia mulai teringat cerita temannya saat pertama kali menghirup udara Jakarta. Temannya mengatakan belum lama ini ratusan orang mati terbakar saat menjarah sebuah toko di pusat kota. Sayangnya, cerita itu tidak ia simak dengan serius. Gedung-gedung indah yang baru dilihatnya telah menelan dirinya.

Merasa tak kuat lagi, Ratim duduk bersandar di bawah tiang listrik sambil memeriksa lukanya. Ia meringis kesakitan saat meraba luka bekas bacok di lengannya. Sesekali erangan keluar dari bibirnya yang jontor membiru bekas pentungan balok.

Senja diserap malam dan memuntahkannya menjadi gemintang di langit yang gosong bagai pantat panci setelah siang tadi dibakar terik matahari. Meski masih muda usia malam, Jakarta tampak begitu kelam. Kerusuhan yang terjadi di mana-mana menjadi biang keroknya. Presiden Soeharto yang ngotot tidak mau turun dari singgasananya disebut-sebut penyebabnya. Mengurung diri dalam rumah barangkali salah satu cara paling aman saat ini. Di pinggir trotoar Ratim meringkuk seperti pistol sambil menembakkan pandangan matanya ke atas langit yang kelap-kelip diminyaki cahaya kuning bulan separo.

Saat itulah air matanya mengalir melintasi pipinya yang cekung. Ia tidak menyangka akan mengalami nasib sepedih ini. Sambil merenungi nasibnya yang apes, ia mulai menyesali kenekatannya merantau ke Jakarta untuk membanting kartu nasibnya.

”Maafkan anakmu, Pak,” ujarnya pelan. Masih terngiang ucapan bapaknya saat ia merengek minta ongkos untuk merantau ke Jakarta.

”Jakarta sudah berubah tidak lagi seperti yang dulu, Nak,” kata bapaknya menasihati dengan logat khas Tegal suatu sore di beranda rumahnya. ”Sekarang tidak ada kuda di Jakarta, becak barangkali juga bisa dihitung. Sebagai gantinya tenaga manusia yang diperalat. Dicambuk. Ya, tentu saja manusia tidak berijazah seperti kita. Apa yang mau kamu cari di Jakarta, sedang ijazah pun tidak ada. Bisa baca tulis pun tidak.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore