Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Mei 2024 | 15.31 WIB

Makelar Bandit Tolchopo

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Saya pikir, Jorge memang kurang bisa diandalkan. Pada suatu waktu, saya pernah perintahkan dia untuk mencuri vodka. Namun yang dibawa kepada saya malah wiski.

”Apa bedanya vodka dan wiski, Tuan? Kalau keduanya sama-sama memabukkan,” tanya Jorge saat itu. Saya tidak pernah marah kepadanya karena saya tahu dia sedikit idiot. Ada sesuatu yang salah di dalam kepalanya. Atau sesuatu yang bergeser dari tempat seharusnya.

Tetapi kali ini, saya mau tak mau, harus yakin dan tidak yakin, dia dapat mengatasi para bandit. Dan pada akhirnya saya mendengar juga ketukan pintu. Kemudian saya dengar suara langkah kaki, diikuti ancaman, dan napas yang terengah-engah. Tiba-tiba saya teringat kejadian pembunuhan orang tua saya. Ketika saya keluar dari kamar, mereka ditembak dua kali dan tak tertolongkan.

”Jorge, saya tahu siapa kamu! Karena saya memang tahu semua orang di sini. Bukankah saya sudah mengirimkan surat? Apakah Tuanmu membaca surat saya dengan baik?” saya dengar suara itu.

”Kalau dia membaca surat itu, mengapa dia tak segera mengutus kau untuk mengirimkan sepuluh sapi ke tempatku? Jaraknya tak terlalu jauh dari sini. Hanya melewati dua desa. Jorge, aku kenal desa ini sejak lama dan aku tak pernah salah menilai soal ketaatan semua orang kepadaku. Inilah yang membuatku curiga, jangan-jangan, kau telah menggelapkan sapi-sapi itu? Terkutuklah kau, Jorge!”

Saya dengar jelas percakapan mereka. Termasuk apa yang dikatakan Jorge. Bahwa dia tidak menerima surat apa pun, dan jangan-jangan, anak buah para banditlah yang telah menggelapkan surat sebelum dia.

”Kau pintar sekali dan terkesan setia. Bagus, bagus. Tadinya aku ragu. Tapi sepertinya Tuhan sedang kesepian dan membutuhkan seorang teman. Kau siap untuk itu, Jorge?”

Saya menduga Bandit Tolchopo sebentar lagi akan menembak Jorge. Mungkin dia akan mati lebih cepat, tetapi apalah yang bisa dilakukannya? Saya meragukan pikiran buruk dan cepat merasa senang karena saya tidak mendengar rengekan dari Jorge. Saya pikir dia telah siap untuk itu. Mati di tangan seorang bandit bukanlah sesuatu yang buruk. Saya pernah memberi tahu Jorge bahwa kematian terburuk hanya terjadi jika kita tak pernah mengetahuinya. Semacam terjadi ketika kita tidur atau karena kekonyolan, terkelabui oleh sesuatu di luar kendali.

Saat ini rambut saya sudah mulai mengering, tetapi saya belum mendengar suara tembakan. Bahkan saya tak mendengar suara persitegangan apa pun di luar. Suasananya mendadak menjadi sunyi ketika saya memeras rambut dengan handuk. Dan kesunyian membawa saya pada kebisingan dan ingatan-ingatan buruk. Saya pernah membaca ini di buku-buku terkenal, kesunyian adalah kebisingan terbesar.

Tentang sesuatu yang saya benci, penembakan orang tua yang tak terhindarkan terjadi dalam beberapa detik saja setelah saya keluar kamar. Mereka roboh begitu saja. Semua segera melintas tanpa ancang-ancang dalam pikiran saya saat ini. Dan tentu saja, saya tak ingin mengalami peristiwa yang sama untuk kali kedua.

Ketika saya keluar dari kamar, Jorge masih terlihat santai berhadapan dengan Bandit Tolchopo. Bandit lain mengarahkan pistol tepat ke kening Jorge. Dan Jorge tak sedikit pun berkedip.

Melihat cara mereka memegang pistol, saat itu saya berpikir, sesuatu yang saya benci sepertinya takkan terjadi saat ini. Terbukti, beberapa detik, kemudian berlalu sesuai tebakan saya.

”Jorge, kenapa tidak buatkan minuman untuk para tamu? Saya tidak lihat ada gelas di atas meja!”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore