
ILUSTRASI
Namun, di pasar gelap, kisaran harga untuk Kitab Al-’Azif jauh lebih tinggi daripada ”Codex Leicester”. Salinan asli buku itu bernilai 100 juta dolar atau sekitar 1,5 triliun rupiah!
Mungkin itu sebabnya banyak orang dari berbagai penjuru dunia berlomba-lomba mencarinya. Salah satunya Malang Sumirang.
Malang Sumirang tidak berasal dari Malang. Dia dibesarkan di Demak sebagai anak pungut seorang kopral polisi yang tak punya anak. Tak diketahui pasti siapa orang tua kandungnya. Dia lari dari rumah setamat SMA gara-gara dihajar sampai setengah modar oleh bapak angkatnya setelah ketahuan mencuri perhiasan milik ibu angkatnya untuk membeli ganja.
”Dasar bocah tak tahu diri! Sudah bagus kau kupungut dari jalanan. Bukannya berterima kasih, kau malah bikin masalah!” bentak Kopral Jono seraya memukuli tubuh kerempeng Malang yang tak berdaya membela diri.
Bukan kali pertama Malang mendapat hajaran seperti itu. Terkadang dia bahkan dipukul dan dimaki hanya karena kesalahan kecil.
”Aku bersumpah tak akan pernah kembali ke rumah jahanam itu,” tekad Malang.
Malang pun mengembara dari satu kota ke kota lain; bertahan hidup dengan mencuri sebelum akhirnya menjadi spesialis pencuri buku.
Kini dia berusia 45 tahun dan sudah mencuri buku sejak usia 17 tahun. Artinya, dia telah berpengalaman selama 28 tahun. Karier yang cukup panjang. Buku pertama yang dia curi adalah sebuah buku puisi Rendra yang dia ambil dari perpustakaan sekolah lalu dihadiahkan kepada pacarnya.
Telah tiga bulan belakangan ini Malang mengincar rumah seorang kolektor buku langka di Ubud. Dia mendapat informasi akurat bahwa lelaki tua eksentrik itu memiliki Kitab Al-’Azif edisi asli berbahasa Arab yang telah berusia 13 abad.
Penadah kenalannya telah mendapatkan pembeli, yakni seorang pengusaha tersohor di Jakarta yang dekat dengan partai politik dan dikenal sebagai kolektor barang antik. Dia bersedia membayar buku itu Rp 15 miliar! Dipotong komisi penadah 30 persen, jika rencananya berhasil Malang masih mendapatkan bagian yang amat besar. Dia bisa pensiun dini lalu menikmati hidup nyaman ongkang-ongkang kaki, bebas bersenang-senang dan berkeliling dunia seperti impiannya selama ini.
Dengan penghasilan lumayan dari mencuri buku dia memang tak bisa dibilang miskin, bahkan sebagai lelaki yang hidup sendirian tanpa tanggungan dia cukup mapan. Dia punya rumah yang layak di pinggiran Jogjakarta, mobil, dan tabungan di bank. Tetapi, dia merasa belum mencapai apa yang disebut orang-orang sebagai kebebasan finansial.
Malang tidak pernah merasa bersalah dengan profesinya. Dia juga tak merasa bernasib malang. Dia justru bangga. Tidak sembarang orang bisa menjadi pencuri buku, apalagi pencuri buku langka yang sukses. Meski tak selalu berhasil, selama ini dia tidak pernah tertangkap. Namanya bahkan disegani di kalangan pencuri buku. Baginya, pekerjaannya adalah seni.
”Apa salahnya menjadi maling buku? Bukankah semua orang mencuri dengan caranya masing-masing? Ada yang terus terang seperti aku, ada pula yang baru ketahuan setelah ditangkap polisi atau petugas KPK,” ujar Malang suatu kali kepada seorang pelacur yang menemaninya berpesta anggur merah untuk merayakan sebuah proyek pencurian buku yang berhasil dituntaskan dengan gemilang.
”Banyak pejabat yang kelihatan terhormat dan alim di televisi ternyata sesungguhnya maling dan penipu. Mereka tidak lebih baik ketimbang diriku. Setidaknya aku tak merampok uang rakyat hingga triliunan!” katanya lagi seraya tertawa berderai.
Malang telah memperhitungkan semua detail rencananya dengan matang. Sudah tiga hari lelaki tua yang akan jadi mangsanya itu tak ada di rumah. Dia pergi ke luar negeri. Rumah itu kosong dan Malang paham bagaimana mematikan sistem alarmnya. Dia mengetahui cara terbaik agar dapat menyelinap masuk. Dia juga tahu di mana buku itu tersembunyi. Dia telah melakukan riset, observasi, dan pekerjaan rumahnya dengan baik.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
